Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah.
Jejak Sejarah Uang di Indonesia: Dari Tradisional hingga Digital
Husen Miftahudin • 12 January 2026 17:15
Jakarta: Uang merupakan bagian penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia sejak masa lampau. Sistem pembayaran terus mengalami perkembangan, mulai dari alat tukar tradisional hingga teknologi digital modern. Perubahan ini menggambarkan kemajuan ekonomi dan pola transaksi masyarakat dari waktu ke waktu.
Berikut penjelasan lengkap sejarah perkembangan uang di Indonesia dari masa ke masa:
Masa kerajaan
Melansir dari Bank Sinarmas, sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat nusantara telah mengenal sistem pertukaran (barter) dan penggunaan benda bernilai sebagai alat untuk bertransaksi.
Seperti halnya perdagangan pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang masih banyak mengandalkan sistem barter. Di sisi lain, beberapa komoditas bernilai tinggi seperti rempah-rempah, kerang, emas, dan perak juga telah berfungsi sebagai alat pembayaran.
Seiring berkembangnya aktivitas perdagangan antarpulau dan kerajaan, beberapa kerajaan mulai mencetak alat transaksi atau mata uang sendiri dari emas, perak, atau tembaga.
Mengutip dari laman Ruang Guru, kerajaan Hindu–Buddha yang mencetak mata uang sendiri salah satunya kerajaan Jenggala dengan mata uang bernama Krisnala (uang Ma), kerajaan Buton dengan uang Kampua, dan kerajaan Majapahit dengan uang Gobog.
Kerajaan Islam seperti kerajaan Samudra Pasai juga memiliki mata uang yakni uang Dirham yang terbuat dari emas sebagai alat untuk bertransaksi.
Masa penjajahan Belanda
Pada masa penjajahan Belanda, sistem moneter di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan seiring menguatnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dalam perdagangan dan pemerintahan.
Mengutip dari laman Ruang Guru, pada 1828 pemerintah Hindia–Belanda mendirikan De Javasche Bank (SJB) dan mengeluarkan mata uang resmi yakni uang Sen dan Gulden sebagai alat transaksi khusus di wilayah Hindia–Belanda.
Uang logam yang dikeluarkan VOC digunakan dalam perdagangan, sedangkan uang kertas digunakan untuk memudahkan transaksi dalam jumlah yang besar, dilansir dari laman Institut Bisnis dan Informatika KWIK KIAN GIE.
| Baca juga: Mata Uang BRICS akan Jadi Saingan Dolar AS? Berikut Penjelasannya |
Masa penjajahan Jepang
Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, kehadirannya membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat terutama di bidang ekonomi. Seluruh uang peninggalan Belanda ditarik dari peredaran dan digantikan dengan mata uang baru yang diterbitkan oleh Jepang melalui Bank Nanpo Kaihatsu Ginko, dilansir dari Ruang Guru.
Mata uang Jepang di Indonesia dikenal sebagai gulden Jepang dengan ciri-ciri perubahan tulisan dari De Javasche Bank (Belanda) menjadi De Japansche Regeering (Jepang).
Menjelang akhir kekuasaannya, Jepang sempat menerbitkan uang dengan menggunakan bahasa Indonesia untuk menarik simpati masyarakat, namun peredaran uang tersebut tidak stabil hingga mengalami penurunan nilai yang drastis akibat hiperinflasi, dilansir dari Bank Sinarmas.

(Mata uang De Japansche Regeering Foto: panix.com)
Masa Kemerdekaan
Merangkum dari laman Ruang Guru, setelah Indonesia merdeka terjadi kekacauan moneter akibat beredarnya mata uang peninggalan Belanda dan Jepang secara bersamaan.
1. Masuknya NICA
Kondisi ini semakin diperburuk usai kedatangan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang memperkenalkan gulden NICA sebagai alat pembayaran resmi. Namun, mata uang ini ditolak oleh pemerintah dan rakyat Indonesia karena dianggap sebagai simbol penjajahan.2. Terbitnya ORI
Pemerintah akhirnya menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 1946 sebagai mata uang nasional pertama untuk menegaskan kedaulatan ekonomi serta menggantikan uang peninggalan penjajah.3. Munculnya uang RIS
Pada awal 1950, pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) menarik peredaran ORI dan menggantikannya dengan mata uang RIS. Namun, pada Agustus 1950 RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga penggunaan mata uang RIS tidak berlaku lagi.Kelahiran Bank Indonesia
Sistem moneter Indonesia terus mengalami perkembangan menyesuaikan kondisi kehidupan yang berlangsung. Pada 1 Juli 1953, Bank Indonesia (BI) resmi hadir sebagai bank sentral yang menggantikan De Javasche Bank. Pada awalnya penerbitan rupiah dilakukan oleh dua pihak yakni pemerintah untuk pecahan kecil dan BI untuk pecahan besar.
Namun, setelah diterbitkannya Undang-Undang (UU) 13 Tahun 1968, kewenangan penerbitan uang sepenuhnya berada di tangan BI sebagai pemegang hak tunggal.
Era digital
Memasuki era digital, sistem pembayaran di Indonesia mengalami transformasi besar melalui teknologi keuangan dan layanan nontunai seperti kartu, dompet digital, mobile banking, dan pembayaran QR. Sehingga kini uang tidak hanya hadir dalam bentuk fisik tetapi juga digital dengan fungsi dan nilai yang sama dalam aktivitas ekonomi.
Sejarah uang di Indonesia menggambarkan perjalanan panjang alat transaksi yang dipengaruhi oleh perubahan ekonomi, politik, dan teknologi. Mulai dari alat tukar tradisional pada masa kerajaan hingga sistem pembayaran digital saat ini, setiap fase menunjukkan kemampuan bangsa beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Alfiah Ziha Rahmatul Laili)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com