Apakah Kilau Harga Emas Bakal Terus Berlanjut? Simak Proyeksinya Hari Ini

Emas batangan. Foto: dok Global Bullion Suppliers.

Apakah Kilau Harga Emas Bakal Terus Berlanjut? Simak Proyeksinya Hari Ini

Husen Miftahudin • 13 January 2026 10:26

Jakarta: Harga emas (XAU/USD) dunia kembali mencetak tonggak bersejarah pada awal pekan ini setelah melonjak menembus level psikologis USD4.600 per troy ons.

Lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya arus dana ke aset aman menyusul munculnya ketidakpastian besar di Amerika Serikat (AS), khususnya setelah Departemen Kehakiman AS mengajukan tuntutan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait proyek renovasi gedung bank sentral.

Emas diperdagangkan di sekitar USD4.606, naik lebih dari dua persen dalam satu sesi, menandai kuatnya minat investor terhadap logam mulia di tengah guncangan kepercayaan terhadap stabilitas institusional AS.

Menurut analisis Dupoin Futures Andy Nugraha, struktur teknikal emas saat ini menunjukkan tren bullish yang semakin solid. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average mengonfirmasi tekanan beli masih mendominasi pasar, bahkan setelah harga mencatatkan rekor tertinggi baru.

"Dari perspektif teknikal, selama harga mampu bertahan di atas zona penopang jangka pendek, peluang kelanjutan reli masih terbuka lebar. Jika tekanan bullish berlanjut, emas berpotensi menguji area USD4.650 sebagai target kenaikan berikutnya," ungkap Andy dalam analisis hariannya, Selasa, 13 Januari 2026.

Namun, ia juga menekankan pentingnya mewaspadai potensi koreksi teknis. Jika harga gagal mempertahankan momentum dan mulai berbalik arah, maka area USD4.565 diperkirakan menjadi support terdekat yang dapat menahan tekanan jual.

Dari sisi fundamental, reli emas kali ini didorong oleh eskalasi risiko politik dan keuangan di AS. Jerome Powell mengungkapkan dirinya sedang berada dalam penyelidikan kriminal, setelah Departemen Kehakiman AS mengeluarkan surat panggilan terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat mengenai proyek renovasi senilai miliaran dolar untuk kantor pusat Fed.

Powell menyebut langkah tersebut sebagai upaya untuk menekan independensi bank sentral agar memangkas suku bunga. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar tentang stabilitas kebijakan moneter dan mendorong investor global beralih ke aset safe-haven seperti emas.
 

Baca juga: Nyaris USD4.600/Ons, Kilau Harga Emas Dunia Makin Bersinar


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Ketegangan geopolitik ikut dorong harga emas


Ketegangan geopolitik juga menambah daya tarik logam mulia. Hubungan antara AS dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi dan tarif terhadap negara atau perusahaan yang tetap berbisnis dengan Teheran.

Iran pada saat yang sama memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan intervensi. Lingkungan geopolitik yang semakin rapuh ini memperkuat permintaan terhadap emas sebagai pelindung nilai di tengah meningkatnya risiko konflik dan ketidakpastian global.

Di sisi makroekonomi, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen AS. CPI diperkirakan naik secara tahunan, dan jika hasilnya lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS bisa menguat sehingga berpotensi menekan harga emas dalam jangka pendek.

Namun, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan, dengan pertumbuhan lapangan kerja yang melambat meski tingkat pengangguran turun, masih menjaga spekulasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

"Kondisi ini tetap menjadi faktor pendukung bagi emas karena suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi daya tarik aset berbunga dan memperkuat posisi logam mulia," papar Andy.

Secara keseluruhan, Andy menilai prospek emas dalam jangka pendek hingga menengah masih cenderung positif. Selama ketidakpastian politik di AS, ketegangan geopolitik, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar terus membayangi pasar, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur bullish.

"Meskipun volatilitas kemungkinan akan meningkat seiring pelaku pasar merespons setiap rilis data ekonomi dan perkembangan geopolitik terbaru," urai dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)