Ilustrasi irigasi pertanian. Foto: dok Kementerian PUPR.
Dukung Swasembada Pangan, Menteri PU Perluas Jaringan Irigasi Air Tanah
Husen Miftahudin • 31 May 2026 18:52
Jakarta: Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memperluas layanan irigasi untuk mendukung pertanian di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dia mengatakan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) merupakan bagian dari komitmen Kementerian PU dalam memastikan setiap tetes air dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat," kata Dody seperti dikutip dari Antara, Minggu, 31 Mei 2026.
Kementerian PU terus memperkuat pembangunan infrastruktur sumber daya air guna mendukung pemerataan pembangunan dan peningkatan produktivitas pertanian di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), yang menjadi solusi penyediaan air bagi lahan pertanian tadah hujan, seperti Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dody mengarahkan agar pengembangan JIAT di Rote tidak hanya berfokus pada pembangunan sumur dan pompa air tanah, tetapi juga dilengkapi dengan jaringan saluran tersier sesuai dengan kondisi morfologi lahan sehingga mampu mengalirkan air secara lebih efektif hingga ke lahan pertanian.
Selain itu, dia juga mendorong pemanfaatan energi yang lebih efisien untuk operasional sistem irigasi air tanah, termasuk penggunaan panel surya pada lokasi-lokasi yang memungkinkan. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan biaya operasional pompa sekaligus meningkatkan keberlanjutan layanan irigasi di daerah-daerah terpencil.
| Baca juga: Penguatan Swasembada Pangan Diperlukan di Tengah Ketidakpastian Situasi Global |

(Ilustrasi. Foto: dok MI)
Rogoh anggaran Rp1,5 miliar
Air irigasi melalui sumur bor di Desa Lekunik, Kecamatan Lobalain, dibangun melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai anggaran sebesar Rp1,5 miliar. Infrastruktur tersebut memiliki debit air sebesar 9 liter/detik dan saat ini melayani areal pertanian seluas 10 hektare.
Keberadaan JIAT ini, kata Dody, menjadi sangat penting mengingat Kecamatan Lobalain memiliki total lahan sawah sekitar 1.395 hektare. Pada musim tanam kedua, ketersediaan air dari sumber permukaan sering kali menurun sehingga suplai air tanah menjadi alternatif yang dibutuhkan petani untuk mempertahankan produksi pertanian.
Dody meminta pengembangan JIAT ke depan perlu dilakukan secara terintegrasi dengan pemetaan kebutuhan air pada seluruh kawasan pertanian potensial di Rote Ndao.
Menurut dia, dengan perencanaan yang matang, diharapkan pembangunan sumur-sumur JIAT baru dapat dilakukan secara bertahap dan tepat sasaran sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.
Melalui pembangunan JIAT dan berbagai infrastruktur sumber daya air lainnya, Kementerian PU berkomitmen terus menghadirkan layanan dasar yang andal, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah 3T guna mewujudkan pertanian Indonesia yang lebih maju.
Dody mengatakan, pengembangan JIAT di Rote Ndao juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.