Kapan Musim Hujan 2026? Ini Prediksi BMKG

Ilustrasi Medcom.id

Kapan Musim Hujan 2026? Ini Prediksi BMKG

Putri Purnama Sari • 24 September 2026 09:08

Jakarta: Musim hujan 2026/2027 di Indonesia diprediksi datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran awal musim hujan akibat pengaruh El Nino yang sangat kuat dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD).

Dilansir dari laman BMKG, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur dari rata-rata klimatologisnya.

Kapan Musim Hujan 2026 Dimulai?

Awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan. BMKG memprediksi sebagian besar wilayah baru mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026.

Sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026. Wilayah tersebut mencakup sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Sementara itu, sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember 2026. Wilayah tersebut meliputi sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, serta Papua Selatan bagian selatan.

Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis, sebanyak 529 ZOM atau 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami awal musim hujan yang lebih lambat. Sebanyak 11 ZOM atau 1,12 persen luas daratan diprediksi mengalami musim hujan lebih cepat, sedangkan 26 ZOM atau 2,15 persen memasuki musim hujan sesuai kondisi normal.

Mengapa Musim Hujan 2026 Diprediksi Terlambat?


Ilustrasi. Foto: Medcom.id.

BMKG menjelaskan keterlambatan musim hujan berkaitan dengan kondisi El Nino yang saat ini berada pada intensitas sangat kuat. Pada akhir Agustus 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik tercatat sebesar +2,83. Sementara itu, indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) mencapai +2,63.

Di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus 2026 tercatat sebesar +0,376 dan berpeluang berada dalam fase positif hingga akhir tahun.

Kondisi El Niño dan IOD yang berlangsung bersamaan dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. BMKG menyebut kombinasi kedua fenomena tersebut dapat memperpanjang periode kekeringan sehingga musim hujan datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat.

Berdasarkan pemantauan perkembangan musim, sebanyak 556 ZOM atau 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau.

BMKG juga mencatat sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut tersebar di 25 provinsi, dengan HTH terpanjang saat ini tercatat di Bantul selama 131 hari atau lebih dari empat bulan.

Kapan Puncak Musim Hujan 2026/2027?

Meski awal musim hujan diprediksi lebih lambat, puncak musim hujan di Indonesia juga berbeda-beda berdasarkan wilayah. Sebanyak 155 ZOM atau 36,94 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026.

Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, dan Papua Selatan bagian barat.

Selanjutnya, 162 ZOM atau 25,68 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027. Wilayahnya mencakup Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan sebagian Pulau Papua.

Sementara itu, 190 ZOM atau 16,79 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Februari 2027. Wilayah tersebut mencakup Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.

BMKG juga memprediksi durasi musim hujan 2026/2027 lebih pendek dari kondisi normal pada 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia. Sebanyak 60 ZOM atau 8,58 persen luas daratan diprediksi mengalami musim hujan lebih panjang, sedangkan 40 ZOM atau 5,06 persen diprediksi memiliki durasi yang sama dengan kondisi normal.

BMKG Imbau Masyarakat Waspada

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan informasi cuaca dan iklim yang disampaikan BMKG karena waktu masuknya musim hujan dapat berbeda antarwilayah.

Masyarakat juga diingatkan untuk tetap mewaspadai kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada September-Oktober. Selain itu, masyarakat perlu mempersiapkan sistem drainase serta langkah evakuasi untuk menghadapi potensi banjir dan longsor saat awal hingga puncak musim hujan.

(Siti Nahdia Usman)

(Putri Purnama Sari)