Iran Ancam Negara Tetangga yang Bantu 'Perang Ekonomi' AS

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaee. (Yeni Safak)

Iran Ancam Negara Tetangga yang Bantu 'Perang Ekonomi' AS

Willy Haryono • 23 August 2026 16:38

Teheran: Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaee memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak bergabung dalam apa yang disebutnya "perang ekonomi" Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Rezaee mengatakan negara-negara yang membantu Washington akan dianggap sebagai musuh dan menghadapi ancaman terhadap kepentingan mereka.

"Kami mengatakan kepada seluruh negara tetangga agar tidak berpartisipasi dalam perang ekonomi dengan AS. Jika tidak, kami akan menganggap mereka sebagai musuh," kata Rezaee kepada stasiun televisi pemerintah IRIB, Sabtu, 22 Agustus 2026.

"Kami tidak bermaksud memperluas perang, tetapi jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan Amerika dalam perang ekonomi, kami akan menyerang kepentingan mereka," lanjutnya.

Rezaee juga mengancam akan menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz jika negara-negara regional bekerja sama dengan Washington.

"Tidak akan ada satu tetes pun minyak yang keluar dari Teluk Persia atau Selat Hormuz," ujarnya.

Menurut Rezaee, Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington "memperbaiki perilakunya". Ia juga mengeklaim Iran memiliki hak untuk mengelola jalur strategis tersebut karena menguasai lebih dari separuh garis pantai Teluk Persia.

Rezaee mengatakan Iran juga akan menargetkan jalur ekspor alternatif jika diperlukan. "Jika Trump ingin mengambil tindakan, kami akan merespons dengan kekuatan seperti gempa bumi," katanya.

Negosiasi Iran-AS Masih Buntu

Pernyataan Rezaee disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana melancarkan apa yang disebutnya sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun".

Trump menggambarkan kebijakan tersebut sebagai "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Iran.

Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari dan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan.

Namun, perundingan selanjutnya mengalami kebuntuan akibat perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman tersebut.

"Kali ini, Amerika Serikat yang harus terlebih dahulu memenuhi komitmennya," kata Rezaee.

Ketegangan terbaru terjadi di tengah upaya Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran serta perselisihan mengenai status dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Baca juga:  Iran Tegaskan Tak Akan Beri Konsesi dalam Negosiasi dengan AS

(Willy Haryono)