Dolar AS Bangkit, Pulih dari Penurunan Hampir 1%

Dolar AS. Foto: dok MI.

Dolar AS Bangkit, Pulih dari Penurunan Hampir 1%

Husen Miftahudin • 25 August 2026 09:48

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin setelah mengalami penurunan hampir satu persen dalam sepekan sebelumnya. Pergerakan dolar terjadi ketika investor mencermati pasar obligasi AS, kebijakan perdagangan Washington, serta perkembangan geopolitik terkait Iran.

Mengutip Xinhua, Selasa, 25 Agustus 2026, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama naik 0,2 persen menjadi 99,003.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1663 dari USD1,1683 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga turun menjadi USD1,3631 dari USD1,3652.

Dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 159,19 yen dari 159,02 yen. Terhadap franc Swiss, dolar naik menjadi 0,8026 franc dari 0,8008 franc.

Dolar AS juga menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,3850 dolar Kanada dari 1,3761 dolar Kanada. Sementara itu, dolar naik menjadi 9,4973 krona Swedia dari 9,4626 krona pada sesi sebelumnya.
 

 

Pasar obligasi jadi perhatian


Mengutip Investing.com, pasar pendapatan tetap masih menjadi perhatian utama pelaku pasar valuta asing. Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat pada pekan sebelumnya di tengah tekanan jual yang berlangsung cukup lama, terutama pada obligasi bertenor panjang.

Tekanan tersebut dipengaruhi kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak serta perhatian terhadap besarnya penerbitan utang perusahaan untuk membiayai investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun naik 1 basis poin pada pekan lalu dan mencapai 5,337 persen, level tertinggi dalam lebih dari 19 tahun. Imbal hasil obligasi 10 tahun juga meningkat 4,2 basis poin.

Pada perdagangan Senin, kedua instrumen tersebut bergerak lebih stabil. Imbal hasil obligasi 30 tahun terakhir turun 4,6 basis poin, sedangkan imbal hasil obligasi 10 tahun turun 3,8 basis poin.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

AS perluas tekanan ekonomi terhadap Iran


Di Timur Tengah, pemerintah AS mengatakan telah meluncurkan operasi yang disebut "Operasi Pengasingan Ekonomi" terhadap Iran. Kebijakan tersebut diumumkan setelah Trump sebelumnya berjanji meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran di tengah kebuntuan dengan Teheran terkait Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah AS telah memetakan jaringan yang digunakan Iran untuk memperoleh pendapatan dari minyak dan menopang perekonomiannya.

Ia mengatakan operasi tersebut bertujuan mempersempit sumber pendapatan yang dinilai dapat membiayai Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Bessent juga mengatakan Trump telah menghubungi sejumlah negara untuk meminta bank-bank mereka menghentikan transaksi dengan Iran. Namun, ia tidak menyebut negara yang dimaksud.

Sementara itu, Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS atau OFAC menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 60 entitas. Potensi sanksi sekunder selanjutnya dapat menyasar aset digital Iran, teknologi, emas, serta sektor penerbangan dan perkapalan.

(Husen Miftahudin)