Rupiah Turun 27 Poin ke Rp17.721 per USD pada Senin Sore

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

Rupiah Turun 27 Poin ke Rp17.721 per USD pada Senin Sore

Ade Hapsari Lestarini • 24 August 2026 17:29

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.721 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per USD.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin justru menguat ke level Rp17.703 per USD dari sebelumnya Rp17.705 per USD.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi respons negatif pasar terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026.

Defisit transaksi berjalan pada periode tersebut mencapai USD12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang tercatat USD3,6 miliar atau satu persen PDB. Pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer, salah satunya adalah kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia," ungkap dia dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Senin, 24 Agustus 2026.


Ilustrasi. Foto: dok MI.
 

 

NPI defisit USD900 juta


Menurut Ibrahim, meskipun transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan masih terjaga.

Pada kuartal II-2026, NPI mencatat defisit USD900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan defisit USD9,1 miliar pada kuartal I-2026. Perbaikan tersebut ditopang transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus USD12 miliar, setelah pada kuartal sebelumnya mengalami defisit USD4,8 miliar.

"Namun, para analis memperingatkan kesenjangan transaksi berjalan Indonesia ini mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan terus meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran serta Rusia dan Ukraina di Eropa Timur," ujar dia.

Di sisi lain, aktivitas bisnis sektor jasa AS tercatat solid. Indeks PMI Jasa S&P Global AS pada Agustus mencapai 56,8, melampaui perkiraan 54 dan menjadi level tertinggi sejak Desember 2024. Angka tersebut juga meningkat dibandingkan 54,6 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, PMI Manufaktur AS melambat dari 53,9 menjadi 53,2 atau menjadi level terendah dalam lima bulan.

"Kekhawatiran akan inflasi akibat harga energi di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat memicu kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang," kata Ibrahim.

(Ade Hapsari Lestarini)