BI Rate 5,75% Dinilai Mampu Jaga Keseimbangan Stabilitas Rupiah dan Inflasi

Anggota Komisi XI DPR Fathi. Foto: Dok. Istimewa.

BI Rate 5,75% Dinilai Mampu Jaga Keseimbangan Stabilitas Rupiah dan Inflasi

Fachri Audhia Hafiez • 22 August 2026 19:13

Jakarta: Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen dinilai mencerminkan kehati-hatian bank sentral. Khususnya dalam menjaga stabilitas perekonomian di tengah ketidakpastian global.

“Dalam situasi global yang masih penuh ketidakpastian, yang dibutuhkan adalah kebijakan yang terukur, konsisten, dan tidak reaktif. Bank Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah, inflasi, dan kebutuhan untuk tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata anggota Komisi XI DPR Fathi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 22 Agustus 2026.
 

Keputusan penahanan suku bunga tersebut ditetapkan berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18–19 Agustus 2026. Seiring dengan hal itu, suku bunga Deposit Facility bertahan di posisi 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility berada di angka 6,50 persen.

Fathi menilai langkah ini membuktikan bahwa BI tidak terburu-buru merespons gejolak jangka pendek. Sekaligus cermat memperhitungkan risiko global demi menjaga tingkat inflasi serta nilai tukar rupiah.

“Inflasi kita tetap terkendali dan rupiah juga menunjukkan perbaikan. Namun ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda. Karena itu, kehati-hatian Bank Indonesia merupakan langkah yang tepat untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas perekonomian nasional,” ucap Fathi.


Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Dok. Media Indonesia.

Dia memuji bauran kebijakan moneter dan makroprudensial BI yang adaptif. Sehingga, tetap mampu mendukung pasokan likuiditas, penyaluran kredit, dan pembiayaan bagi sektor produktif.

“Yang positif adalah Bank Indonesia tidak melihat persoalan ekonomi hanya dari satu instrumen. Stabilitas tetap dijaga, tetapi dukungan terhadap likuiditas, kredit, dan pembiayaan sektor produktif juga terus diberikan. Pendekatan seperti ini penting agar stabilitas dan pertumbuhan dapat berjalan beriringan,” jelas Fathi.

Konsistensi BI dalam mengeksekusi bauran kebijakan ini dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kredibilitas bank sentral di mata investor dan pasar internasional. Khususnya saat kondisi geopolitik dunia sulit diprediksi.

“Di tengah situasi dunia yang berubah sangat cepat, kredibilitas bank sentral menjadi aset yang sangat penting. Saya melihat Bank Indonesia sejauh ini mampu menjalankan perannya dengan baik dan menjaga kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Kalau kebijakannya tepat dan hasilnya baik bagi stabilitas ekonomi nasional, tentu patut kita apresiasi,” kata Fathi.

(Fachri Audhia Hafiez)