Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. MI/Insi Nantika Jelita
Defisit APBN Aman di Bawah 3%, Purbaya: Nggak Masalah
Eko Nordiansyah • 2 April 2026 11:10
Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 agar tetap di bawah tiga persen, atau berada di 2,9 persen di tengah lonjakan harga energi dunia.
“Ini sudah kami hitung semua. Nanti bahkan dengan rata-rata (harga minyak dunia) 100 (dolar AS per barel) pun kami sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen. Itu sekitar 2,9 persen. Jadi, nggak masalah,” ujar Purbaya ketika ditemui di Wisma Danantara Indonesia Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 2 April 2026.
Adapun APBN 2026 semula diproyeksikan mengalami defisit Rp698,15 triliun, atau setara 2,68 persen terhadap PDB. Dengan demikian, terdapat tambahan proyeksi defisit sebesar 0,12 persen akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.
Lonjakan harga minyak dunia
Peperangan tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak dunia di pasar internasional. Harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD100 per barel.Angka tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, dengan jenis Brent (ICE) sebesar USD64 per barel.
“Kalau (defisit) dari 2,68 persen ke 2,9 persen kan 0,12 persen kan, dari PDB. Nggak besar-besar amat,” ucap Purbaya.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Purbaya memberi catatan defisit sebesar 2,9 persen itu dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia berada di angka USD100 per barel sampai akhir tahun.
“Itu kalau setahun penuh USD100 per barel. Tapi sekarang kan udah turun lagi. Rata-ratanya USD76–USD77 (dolar AS per barel). Jadi, masih di bawah asumsi yang USD100 per barel,” ucap Purbaya.
Penghematan belanja hingga siapkan SAL
Purbaya juga menyampaikan bahwa pemerintah melakukan berbagai penghematan belanja kementerian untuk mengurangi defisit APBN. Selain itu, Purbaya juga menyampaikan pemerintah memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun.“Kalau kepepet, saya punya SAL. Sekarang naik Rp420 triliun. Bakal kepakai kalau kepepet banget,” kata Purbaya.
Hingga saat ini, meski pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan nonsubsidi di tengah meroketnya harga minyak dunia, Purbaya menyampaikan pemerintah belum menggunakan SAL.
“Nggak, belum (pakai SAL). Kondisi keuangan negara kita amat baik, saya punya bantalan cukup banyak,” ujar Purbaya.