Ramadan Gaza 2026: Pengungsi Palestina Hadapi Kelaparan dan Kehilangan

Seorang anak di Jalur Gaza menjual lentera dalam menyambut bulan suci Ramadan 2026. (Anadolu Agency)

Ramadan Gaza 2026: Pengungsi Palestina Hadapi Kelaparan dan Kehilangan

Muhammad Reyhansyah • 19 February 2026 14:45

Gaza: Seorang ayah Palestina yang mengungsi di Jalur Gaza mengenang suasana Ramadan sebelum konflik menghancurkan kehidupannya, seraya mengatakan bulan suci tahun ini dimulai tanpa kebahagiaan yang dulu dirasakan keluarganya.

Waleed al Zamli, ayah dari 11 anak yang kini tinggal di tenda pengungsian di Mawasi setelah melarikan diri dari ofensif militer Israel, mengatakan Ramadan sebelumnya identik dengan lentera untuk anak-anak, manisan, dan hidangan istimewa.

“Sebelum perang, kami menyambutnya dengan kebahagiaan,” kata al Zamli. “Tahun ini, tidak ada kebahagiaan," 

Ia mengatakan kehilangan pekerjaan setelah toko tempatnya bekerja hancur. Untuk berbuka puasa pertama, istrinya mengambil makanan dari dapur amal, termasuk sup untuk menambah porsi bagi keluarga.

“Hal ini membuat saya sedih dan tersiksa karena tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Mengutip TRT World, Kamis, 19 Februari 2026, Ramadan tahun ini tiba di Gaza di bawah gencatan senjata yang rapuh. Banyak warga Palestina mengatakan suasana perayaan yang biasanya menyertai Ramadan hampir tidak terasa di tengah pengungsian, kesulitan ekonomi, dan kehilangan anggota keluarga.

Di sebuah dapur umum, puluhan warga datang membawa wadah kosong untuk mendapatkan makanan. Anak-anak, perempuan, dan lansia menunggu berdesakan dengan harapan memperoleh bantuan.

Dalam kondisi normal, Ramadan menjadi momen berkumpul keluarga untuk berbuka puasa dan sahur bersama. Namun, konflik telah mengubah kehidupan banyak warga Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina telah tewas sejak konflik dimulai, sementara sebagian besar penduduk terpaksa mengungsi dan infrastruktur mengalami kerusakan luas.

Al Zamli mengatakan kenaikan harga pangan dan terbatasnya bantuan membuat keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Harga daging dan unggas, katanya, jauh lebih mahal dibanding sebelum perang.

“Anak-anak ingin merasakan kebahagiaan seperti anak-anak lain, mengenakan pakaian bagus, dan makan sesuatu yang bersih serta istimewa,” katanya.

Meski hidup dalam keterbatasan, sebagian keluarga tetap mencoba menghadirkan suasana Ramadan. Anak-anak di kamp pengungsian membuat lentera sederhana dari kaleng bekas dan menggantung hiasan di antara reruntuhan.

Al Zamli mengatakan ia berharap kondisi segera membaik. Ia berdoa agar kekerasan berakhir dan keluarganya dapat kembali hidup dengan aman serta memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya.

Baca juga:  Gaza Sambut Ramadan Pertama Pasca-Perang dengan Harapan Rapuh

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)