Kisah Pahlawan Nasional Raden Aria Wangsakara yang Berjuang Melawan VOC

Lukisan Aria Wangsakara. (Dokumentasi/ Wikipedia)

Kisah Pahlawan Nasional Raden Aria Wangsakara yang Berjuang Melawan VOC

Silvana Febiari • 6 November 2026 11:42

Banten: Nama Raden Aria Wangsakara menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda). Tak hanya dikenal sebagai tokoh keagamaan Kesultanan Banten, ia juga memiliki peran dalam bidang politik, diplomasi, hingga memimpin perlawanan bersenjata.

Melansir laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Raden Aria Wangsakara lahir di Sumedang pada 1615. Kiprahnya dalam perjuangan bermula ketika ia menjadi bagian dari lingkungan Kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Abul Mufakhir dan Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada masa itu, Wangsakara dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat kuat untuk mengusir penjajah. Perannya tidak hanya terlihat di medan perang, tetapi juga melalui upaya diplomasi untuk mempertahankan kepentingan Kesultanan Banten.

Diutus ke Makkah, Bawa Pengakuan untuk Banten

Salah satu perjalanan penting dalam kehidupan Wangsakara terjadi pada 1636. Saat itu, ia mendapat tugas dari Sultan Banten untuk menunaikan ibadah haji.

Namun, perjalanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan urusan keagamaan. Selama berada di Mekah, Wangsakara berhasil memperoleh surat pengakuan Kesultanan Banten dari Syarif Mekah sebagai kepanjangan tangan otoritas politik Turki Utsmani atau Ottoman.

Pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari kiprahnya dalam memperkuat posisi Kesultanan Banten. Setelah kembali ke Banten, ia mendapat gelar Kiai Mas Haji Wasangraja.

Menjadi Juru Runding Kesultanan Banten Melawan VOC

Peran Wangsakara semakin terlihat ketika konflik antara Kesultanan Banten dan VOC di Batavia terjadi pada 1654.

Dalam peperangan tersebut, ia dipercaya mewakili Kesultanan Banten sebagai juru runding. Upaya diplomasi yang dilakukannya berhasil menghasilkan kesepakatan penghentian perang.

Melalui kesepakatan itu, masing-masing pihak tetap mempertahankan wilayah yang telah dikuasai. Namun, konflik dengan VOC kembali terjadi beberapa tahun kemudian. 

Pada 1658 hingga 1659, Wangsakara mendapat mandat dari Sultan Ageng Tirtayasa untuk memimpin pasukan dalam peperangan melawan VOC. Perjuangan tersebut berujung pada perjanjian damai yang disepakati pada 5 Juli 1659.


Kesultanan Banten. (mui.or.id
)

Mengubah Strategi Pertahanan hingga Tangerang Pedalaman

Setelah peperangan, Wangsakara tidak menghentikan upayanya dalam memperkuat pertahanan wilayah Kesultanan Banten.

Ia mengubah strategi pertahanan dengan membangun permukiman dan kanal. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan pertahanan hingga ke kawasan Tangerang pedalaman.

Strategi ini menjadi bagian dari upayanya mempertahankan wilayah dari ancaman penjajahan VOC.

Perjalanan perjuangan Wangsakara berlangsung hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada 15 Agustus 1681 dan dimakamkan di Lengkong, Pagedangan, Tangerang, yang kini menjadi Taman Makam Pahlawan Kabupaten Tangerang.

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2021

Jasa dan perjuangan Raden Aria Wangsakara dalam melawan penjajahan VOC mendapat pengakuan dari pemerintah Indonesia. Pada November 2021, Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Kisah Raden Aria Wangsakara memperlihatkan perjuangan melawan penjajahan tidak hanya dilakukan melalui peperangan. Diplomasi, penguatan pertahanan, dan upaya mempertahankan wilayah juga menjadi bagian penting dari perjuangannya.

(Silvana Febiari)