Tuanku Tambusai (en.netralnews.com)
Kisah Pahlawan Nasional dari Riau yang Sulit Ditaklukkan Belanda
Silvana Febiari • 6 November 2026 11:00
Jakarta: Nama Tuanku Tambusai menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan melawan kolonial Belanda. Tokoh Paderi asal Dalu-dalu, Rokan Hulu, Riau, ini dikenal karena keberaniannya memimpin perlawanan dan keteguhannya menolak menyerah kepada Belanda.
Melansir dari Wikipedia, Tuanku Tambusai lahir pada 5 November 1784 dengan nama kecil Muhammad Saleh. Ia merupakan putra pasangan Tuanku Imam Maulana Kali dan Munah. Ayahnya berasal dari Nogori Rambah dan dikenal sebagai guru agama Islam. Sementara itu, ibunya berasal dari Nagari Tambusai dan bersuku Kandang Kopuh.
Sejak kecil, Muhammad Saleh mendapat pendidikan langsung dari ayahnya. Ia tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu bela diri, ketangkasan menunggang kuda, hingga tata cara bernegara.
Baca Juga :
Untuk memperdalam pengetahuan agama Islam, ia belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatra Barat. Di sana, Muhammad Saleh berguru kepada sejumlah ulama yang berpaham Paderi hingga memperoleh gelar fakih.
Ajaran Paderi yang dipelajarinya dibawa ke tanah kelahirannya. Semangat untuk menyebarkan dan memurnikan ajaran Islam membuatnya mendapat banyak pengikut. Ajarannya diterima luas oleh masyarakat setempat.
Memimpin Perlawanan terhadap Belanda
Perjuangan Tuanku Tambusai bermula di wilayah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat perlawanan di Benteng Dalu-dalu. Pada 1823, ia melanjutkan perjuangannya ke wilayah Natal.Setahun kemudian, Tuanku Tambusai memimpin pasukan gabungan dari Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk menghadapi pasukan Belanda.
Di tengah perjuangannya, ia juga sempat menunaikan ibadah haji. Tuanku Imam Bonjol bahkan memintanya mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.
Selama sekitar 15 tahun, perlawanan yang dipimpinnya membuat Belanda kesulitan. Pasukan kolonial bahkan kerap meminta tambahan kekuatan dari Batavia untuk menghadapi pasukannya.
Salah satu keberhasilan Tuanku Tambusai adalah menghancurkan Fort Amerongen, benteng milik Belanda. Ia juga sempat merebut kembali Bonjol yang sebelumnya jatuh ke tangan Belanda, meskipun wilayah tersebut tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama.
Perjuangannya tidak hanya menghadapi pasukan Belanda. Tuanku Tambusai juga berhadapan dengan pasukan Raja Gedombang, Regent Mandailing, dan Tumenggung Kartoredjo yang berpihak kepada Belanda.

Tuanku Tambusai (www.rokan.org)
Dijuluki Harimau Paderi dari Rokan
Kegigihan Tuanku Tambusai membuat Belanda memberinya julukan De Padrische Tijger van Rokan atau Harimau Paderi dari Rokan. Julukan tersebut menggambarkan sosoknya yang sulit dikalahkan, tidak mudah menyerah, dan teguh menolak berdamai dengan Belanda.Sikap itu terlihat ketika Kolonel Elout mengajaknya berunding untuk mencapai perdamaian. Namun, Tuanku Tambusai menolak tawaran tersebut dan tetap melanjutkan perlawanan.
Perjuangan panjangnya mencapai titik penting pada 28 Desember 1838. Saat itu, Benteng Dalu-dalu akhirnya jatuh ke tangan Belanda.
Meski benteng pertahanannya berhasil dikuasai, Tuanku Tambusai tidak tertangkap. Ia berhasil meloloskan diri melalui pintu rahasia saat pasukan Belanda dan sekutunya mengepung benteng tersebut. Setelah itu, ia mengungsi ke Kampung Rasah, Seremban, Negeri Sembilan, yang kini berada di Malaysia.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Tuanku Tambusai menghabiskan sisa hidupnya di pengasingan hingga wafat pada 12 November 1882. Ia meninggal dunia pada usia 98 tahun.Perjuangannya melawan kolonial Hindia Belanda mendapat pengakuan dari pemerintah Indonesia. Pada 1995, Tuanku Tambusai ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam menentang penjajahan.