Foto Imam Bonjol. (Dokumentasi SDN 13 Kota Bima)
Profil Tuanku Imam Bonjol, Ulama Minangkabau Pemimpin Perang Padri Melawan Belanda
Silvana Febiari • 3 November 2026 12:40
Jakarta: Tuanku Imam Bonjol merupakan salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang dikenal karena keberaniannya memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda dalam Perang Padri. Sosok asal Minangkabau, Sumatra Barat, ini juga merupakan ulama yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut.
Perjuangannya melawan kolonialisme membuat Tuanku Imam Bonjol dikenang sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan (SK) Presiden RI Nomor 087 Tahun 1973.
Latar Belakang Tuanku Imam Bonjol
Melansir Wikipedia, Tuanku Imam Bonjol memiliki nama asli Muhammad Shahab. Ia lahir di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung, pada 1 Januari 1772. Ia merupakan putra pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun. Ayahnya dikenal sebagai seorang ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.Sejak muda, Muhammad Shahab mendalami ilmu agama hingga tumbuh menjadi ulama sekaligus pemimpin masyarakat. Dalam perjalanan hidupnya, ia memperoleh sejumlah gelar, di antaranya Peto Syarif, Malin Basa, dan Datuk Bagindo Suman.
Nama Tuanku Imam Bonjol kemudian melekat setelah dirinya dipercaya menjadi pemimpin kaum Padri di Bonjol.
Perjalanan Memimpin Perang Padri
Nama Tuanku Imam Bonjol tidak terlepas dari Perang Padri yang berlangsung pada 1803–1838 di wilayah Sumatra Barat. Konflik ini awalnya dipicu perbedaan pandangan antara kaum ulama atau Padri dan kaum Adat mengenai penerapan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.Konflik tersebut melibatkan pemerintah kolonial Belanda setelah sebagian kelompok Adat menjalin kerja sama dengan Belanda pada 1821. Campur tangan Belanda membuat peperangan semakin meluas. Kaum Padri yang sebelumnya menghadapi konflik internal harus berhadapan dengan kekuatan kolonial.
Tuanku Imam Bonjol mulai berperan penting setelah ditunjuk oleh Tuanku Nan Renceh, salah satu pemimpin Harimau Nan Salapan, untuk menjadi imam atau pemimpin kaum Padri di Bonjol. Di bawah kepemimpinannya, perlawanan terhadap Belanda berlangsung sengit. Pasukan Padri mempertahankan wilayah Bonjol dari berbagai serangan kolonial.
Seiring berjalannya waktu, kaum Adat dan kaum Padri akhirnya menyadari campur tangan Belanda justru membawa penderitaan bagi masyarakat Minangkabau. Kedua kelompok tersebut kemudian bersatu untuk menghadapi penjajah.
Persatuan itu turut diperkuat melalui kesepakatan yang dikenal sebagai Plakat Puncak Pato, dengan prinsip adat Minangkabau yang terkenal, yakni Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Benteng Bonjol Jatuh dan Tuanku Imam Bonjol Diasingkan
Perlawanan Tuanku Imam Bonjol menjadi tantangan besar bagi Belanda. Salah satu pertempuran paling menentukan terjadi ketika pasukan kolonial mengepung Benteng Bonjol pada 1837.Pengepungan berlangsung selama berbulan-bulan. Belanda mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menaklukkan pertahanan kaum Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol.
Setelah menghadapi tekanan militer yang semakin kuat, Benteng Bonjol akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada Agustus 1837.
Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada Oktober 1837. Setelah itu, ia ditangkap dan menjalani pengasingan di sejumlah wilayah.
Awalnya, ia dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Selanjutnya, ia dipindahkan ke Ambon sebelum akhirnya diasingkan ke Lotta, Minahasa, dekat Manado, Sulawesi Utara.

Makam Tuanku Imam Bonjol di Pineleng, Minahasa. (Dokumentasi/ Wikipedia)
Wafat di Pengasingan dan Diangkat Menjadi Pahlawan Nasional
Tuanku Imam Bonjol menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan di Minahasa. Ia meninggal dunia pada 6 November 1864 dan dimakamkan di Lotta, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara.Meski perjuangannya berakhir dalam pengasingan, namanya tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme. Pengakuan atas perjuangannya diberikan pemerintah melalui penetapan sebagai Pahlawan Nasional pada 1973.
Hingga kini, nama Tuanku Imam Bonjol diabadikan sebagai nama jalan, stadion, dan berbagai fasilitas publik di Indonesia. Sosoknya juga pernah ditampilkan pada uang kertas pecahan Rp5.000 yang diterbitkan Bank Indonesia pada 6 November 2001.