Abaikan Gencatan Senjata, Serangan Israel Tewaskan 17 Orang di Lebanon

Asap dari serangan Israel di Lebanon. (Anadolu Agency)

Abaikan Gencatan Senjata, Serangan Israel Tewaskan 17 Orang di Lebanon

Dimas Chairullah • 2 May 2026 12:06

Beirut: Serangan Israel kembali menghantam wilayah Lebanon pada Kamis lalu dan menewaskan sedikitnya 17 orang, termasuk dua anak-anak, meski gencatan senjata antara kedua pihak telah berlaku sejak dua pekan terakhir.

Otoritas kesehatan Lebanon menyatakan sebanyak 35 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk sembilan anak-anak dan delapan perempuan.

Militer Israel menyebut serangan tersebut menargetkan infrastruktur milik Hizbullah dan mengklaim telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi 15 desa di Lebanon selatan.

Namun, sejumlah wilayah yang terdampak dilaporkan berada di luar zona yang sebelumnya ditetapkan dalam pengaturan keamanan.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mendesak komunitas internasional untuk menekan Israel agar mematuhi hukum internasional.

“Tekanan harus diberikan kepada Israel untuk memastikan mereka menghormati hukum dan konvensi internasional, dan berhenti menargetkan warga sipil, paramedis, pertahanan sipil, dan organisasi kemanusiaan,” kata Aoun, dikutip dari Independent, Sabtu, 2 Mei 2026.

Gencatan Senjata Israel dan Lebanon

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sebelumnya dicapai di Washington pada 16 April dan diperpanjang selama tiga minggu oleh Presiden AS Donald Trump.

Meski demikian, militer Lebanon menuduh Israel telah berulang kali melanggar perjanjian tersebut sejak awal penerapannya.

Prancis juga sebelumnya menuduh Israel melakukan pelanggaran serupa, sementara Israel menuding kelompok Hizbullah sebagai pihak yang terus memicu ancaman keamanan.

Walau intensitas serangan terhadap Beirut menurun, wilayah Lebanon selatan masih kerap menjadi sasaran serangan udara dan perintah evakuasi.

Awal pekan ini, serangan ganda Israel dilaporkan menewaskan sembilan orang, termasuk tiga petugas penyelamat.

Ketegangan dengan Hizbullah

Israel menyatakan operasi militernya sesuai dengan ketentuan respons terhadap ancaman keamanan yang dianggap akan segera terjadi. Namun, Hizbullah menolak interpretasi sepihak tersebut.

Israel juga menyatakan niat mempertahankan zona penyangga selebar 10 kilometer di sepanjang perbatasan dan membatasi kepulangan warga sipil hingga ancaman dinilai sepenuhnya hilang.

Sebelumnya, serangan besar-besaran Israel pada 8 April yang menargetkan sekitar 100 lokasi tanpa peringatan dilaporkan menewaskan lebih dari 350 orang, memicu kecaman internasional luas.

Presiden Prancis Emmanuel Macron termasuk salah satu pemimpin dunia yang secara terbuka mengecam keras serangan tersebut.

Baca juga:  Pulang dari Pengungsian, Warga Lebanon Temukan Rumah Sudah Hancur Lebur

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)