Danantara Bawa Indonesia Masuki Babak Baru, Sejajar dengan Negara Maju Dunia

Danantara menjadi instrumen baru pemerintah untuk mengelola, mengoptimalkan, dan mengembangkan aset strategis Indonesia (Foto:Dok.Danantara)

Danantara Bawa Indonesia Masuki Babak Baru, Sejajar dengan Negara Maju Dunia

Husen Miftahudin • 15 August 2026 22:27

Jakarta: Indonesia memasuki babak baru dalam pengelolaan aset dan investasi negara melalui kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Danantara menjadi instrumen baru pemerintah untuk mengelola, mengoptimalkan, dan mengembangkan aset strategis Indonesia.

Melalui Danantara, aset negara tidak hanya ditempatkan sebagai kepemilikan yang menghasilkan dividen, tetapi diarahkan menjadi modal yang dapat dikelola, dikembangkan, dan diinvestasikan untuk menciptakan nilai jangka panjang.

Lahirnya Danantara juga menempatkan Indonesia dalam peta baru pengelolaan aset negara berskala global. Dengan nilai aset yang dikonsolidasikan lebih dari USD1 triliun, Danantara memiliki skala yang membuatnya dapat diperbandingkan dengan sejumlah pengelola investasi negara atau sovereign wealth fund (SWF) besar dunia, seperti Temasek milik Singapura, Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) milik Uni Emirat Arab, dan China Investment Corporation (CIC) milik Tiongkok.

Temasek yang merupakan perusahaan investasi milik Pemerintah Singapura beroperasi dengan pendekatan komersial dan berorientasi pada investasi jangka panjang. Per 31 Maret 2026, Temasek mencatat net portfolio value sebesar 518 miliar dolar Singapura.
 


Temasek memiliki portofolio yang tersebar pada perusahaan berbasis Singapura, investasi langsung global, serta kemitraan, dana, dan perusahaan manajemen aset. Lembaga tersebut juga melakukan investasi di berbagai sektor, termasuk transportasi dan industri, teknologi, media dan telekomunikasi, jasa keuangan, konsumen, real estat, serta ilmu hayati dan pangan.

Dengan mandat pengelolaan dan optimalisasi aset negara, Danantara memiliki karakteristik yang dapat dibandingkan dengan Temasek dalam hal peran strategis sebagai instrumen investasi negara. Namun, struktur, mandat, dan sumber aset keduanya tidak sepenuhnya sama.

Danantara juga berada dalam kelompok yang sama jika dilihat dari skala aset dengan Abu Dhabi Investment Authority atau ADIA. ADIA merupakan salah satu sovereign wealth fund terbesar dunia dan berfungsi menginvestasikan dana atas nama Pemerintah Abu Dhabi untuk menciptakan nilai jangka panjang.

Estimasi Global SWF yang dikutip Baker Institute menempatkan aset ADIA sekitar USD1,2 triliun pada 2025. Dengan demikian, skala aset Danantara yang berada di kisaran USD triliun berdekatan dengan sejumlah sovereign wealth fund raksasa, termasuk ADIA.

Pembanding lainnya adalah China Investment Corporation (CIC), salah satu pengelola kekayaan negara terbesar di dunia. CIC mengelola portofolio investasi global dengan berbagai kelas aset, mulai dari saham publik, pendapatan tetap, aset alternatif, hingga kas dan instrumen lainnya. CIC juga menjalankan investasi melalui sejumlah entitas, termasuk CIC International, CIC Capital, dan Central Huijin.

Berdasarkan laporan CIC, total asetnya pada akhir 2024 mencapai sekitar USD1,57 triliun, dengan aset bersih sekitar USD1,37 triliun. CIC juga mencatat tingkat imbal hasil bersih tahunan terakumulasi selama 10 tahun sebesar 6,92 persen dalam denominasi dolar AS.
 
Artinya, apabila menggunakan angka aset sekitar USD1 triliun, Danantara masih berada di bawah skala CIC. Namun, dari sisi ukuran, Danantara sudah masuk ke dalam kelompok lembaga investasi negara dengan kapasitas modal yang sangat besar.

Perbandingan dengan Temasek, ADIA, dan CIC juga menunjukkan tantangan Danantara bukan hanya mengenai seberapa besar aset yang dikelola, tetapi bagaimana aset tersebut dapat menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Perbandingan tersebut juga membuat Indonesia memiliki salah satu ciri penting negara dengan ekonomi besar dan maju, yakni kemampuan mengelola kekayaan negara secara institusional melalui investasi jangka panjang.

Selama ini, kekuatan ekonomi Indonesia lebih banyak dilihat dari ukuran produk domestik bruto, jumlah penduduk, sumber daya alam, pasar domestik, dan pertumbuhan ekonomi. Kini, Indonesia memiliki lapisan baru dalam arsitektur ekonominya yakni kendaraan investasi negara yang bertugas mengelola aset strategis dan mengembangkan nilai investasi dalam jangka panjang.

Dalam konteks ini, Danantara membuat Indonesia semakin menyerupai pola pengelolaan kekayaan negara yang digunakan negara-negara dengan ekonomi besar.

(Rosa Anggreati)