Aspek Tata Bahasa Pidato Munas-Konbes NU Dianalisis

Logo Nahdlatul Ulama (NU). Medcom.id

Aspek Tata Bahasa Pidato Munas-Konbes NU Dianalisis

Rahmatul Fajri • 29 June 2026 09:53

Jakarta: Evaluasi dan sorotan terhadap jajaran pengurus teras Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus bergulir dari kalangan warga akar rumput (nahdliyin). Salah satu catatan kritis pascaagenda Munas-Konbes NU di Bangkalan datang dari tokoh kiai kampung sekaligus kader NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang menelaah aspek tata bahasa dan akurasi kutipan dalam pidato resmi organisasi.

Khalilur menjelaskan, sebagai bagian dari tradisi intelektual pesantren yang lekat dengan kajian kitab kuning, akurasi pelafalan teks Arab (kaidah nahwu dan sharaf) merupakan tolok ukur penting dalam mimbar akademik keagamaan. Berdasarkan hasil simak tayangan langsung, ia memberikan catatan korektif terhadap khotbah yang disampaikan oleh Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar.

"Tulisan dan telaah ini merupakan bagian dari rekam jejak sejarah agar warga nahdliyin dapat menilai secara jernih kualitas figur kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa PBNU ke depan," ujar Khalilur melalui keterangan tertulisnya, Minggu, 28 Juni 2026.

Khalilur menyoroti materi kutipan hadis mengenai kemakmuran sebuah negeri yang dibacakan oleh Rais Aam. Ia mengidentifikasi bahwa teks tersebut bersumber dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali, namun ia menyayangkan tidak disebutkannya sumber rujukan asli tersebut sepanjang pidato berlangsung.

Selain masalah rujukan, kekeliruan mendasar yang disoroti adalah kesalahan pelafalan tahun Hijriah pada durasi awal pidato. Saat bermaksud menyebutkan tahun 1448 Hijriah, struktur kalimat Arab yang terucap justru bermakna 14.048 Hijriah (arba‘ata ‘asyar alfan wa tsamaniyah wa arba‘in). Menurut kaidah ilmu 'Adad dalam kitab Alfiyah Ibn Malik, penyebutan tahun yang tepat secara gramatikal Arab semestinya adalah tsamaniyah wa arba‘in wa arba‘imi’ah wa alf (dimulai dari satuan atau dari ribuan secara runtut).

Lebih lanjut, Khalilur memerinci enam titik kekeliruan teknis saat Rais Aam membacakan draf naskah yang telah tersedia. Kekeliruan tersebut diidentifikasi mencakup empat kesalahan penempatan harakat kata dan dua kesalahan pada pelafalan kata.

Logo Nahdlatul Ulama (NU). Foto- Dok. NU

Baca Juga: 

Warga Nahdliyin Harap Muktamar ke-35 NU Hadirkan Pemimpin yang Menyatukan

Pada aspek kesalahan harakat, poin pertama terjadi saat Rais Aam melafalkan frasa bi badzlil was‘i yang semestinya dibaca badzlul wus‘i, sebuah frasa yang sangat populer dalam literatur usul fikih bab ijtihad. Kedua, pelafalan kalimat wa mulkuhum azmat dinilai kurang tepat, di mana bentuk yang benar berdasarkan konteks makna kepemimpinan adalah wa mallakahum azimmat.

Selanjutnya pada poin ketiga, penempatan harakat pada kata jaizun dinilai menyalahi kaidah nahwu sebagai objek kedua (maf'ul tsani), yang seharusnya dilafalkan jaizan. Keempat, terdapat kekeliruan sharaf pada lafal an anhi yang semestinya dibaca aninha karena diserap dari kata kerja dasar (fi'il mujarrad).

Sementara itu, pada aspek pelafalan kata, Khalilur menemukan dua kesalahan yang dapat mengubah makna teks asli dari kitab Nasihatul Muluk. Kesalahan tersebut meliputi pembacaan frasa li fadh lil ‘ibad yang seharusnya berbunyi li hifzhil ‘ibad untuk konteks menjaga kemaslahatan umat, serta pelafalan kata bis sawiyyah yang semestinya dibaca al-umur al-sirriyyah.

Khalilur menilai, rentetan kekeliruan teknis kebahasaan tersebut menjadi indikator penting mengenai perlunya ketelitian tinggi bagi seorang pemegang otoritas tertinggi di dewan Syuriah PBNU. Terlebih, fungsi Rais Aam merupakan representasi tertinggi dari kealiman dan penjagaan tradisi keilmuan Islam di Nusantara.

(M Sholahadhin Azhar)