Mulai dari Rumah, Simak 5 Langkah Keluarga Jaga Anak dari Kekerasan Seksual

Ilustrasi Anak. Foto: Pexels/Cottonbro Studio

Mulai dari Rumah, Simak 5 Langkah Keluarga Jaga Anak dari Kekerasan Seksual

Muhamad Marup • 22 July 2026 20:37

Jakarta: Keluarga merupakan ruang interaksi anak untuk kali pertama. Lingkungan keluarga berperan penting dalam tumbuh kembang anak serta jadi dasar bagi anak di lingkungan luar.

Ironi kemudian muncul sebab tak jarang lingkungan keluarga justru menjadi ancaman, termasuk dalam menyikapi kekerasan seksual. Relasi keluarga yang sehat dan aman guna melindungi anak merupakan hal yang penting.

Psikolog dari Mentari Anakku, Anggita H. Panjaitan, memaparkan beberapa cara melindungi anak dari kekerasan seksual di lingkungan keluarga. Berikut cara dan keterangannya.

1. Memberikan Pendidikan Seksual

Pendidikan seksual sangat esensial untuk melindungi anak dari kekerasan seksual. Orang tua bertugas mengajarkan anak-anak tentang tubuh mereka, batasan yang sehat, pentingnya hak atas privasi, serta relasi yang sehat.

Anak perlu memahami bahwa tubuh adalah milik pribadi. Dengan demikian, anak memiliki hak penuh untuk mengatakan “tidak” atau bertindak melaporkan perilaku yang dinilai tidak sesuai.

Misalnya, ketika ada orang berusaha untuk menyentuh bagian privasi mereka. Anak harus dilatih agar percaya diri dalam melindungi diri mereka di lingkungan.

Pendidikan seksual penting untuk diberikan secara bertahap sesuai dengan usia anak. Pada usia yang lebih muda, orang tua bisa mengajarkan nama-nama organ tubuh dengan benar dan mengajarkan konsep privasi, seperti area tubuh yang hanya boleh disentuh oleh mereka sendiri.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, orang tua bisa lebih terbuka membicarakan tentang hubungan seksual yang sehat, consent (persetujuan), bahaya kekerasan seksual, serta bahaya perilaku berisiko terkait relasi seksual.

2. Membangun Komunikasi

Komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan penting dalam mencegah kekerasan seksual. Jika orang tua bisa membuat anak merasa nyaman bicara, anak akan melaporkan jika mereka merasa tidak nyaman atau mengalami sesuatu yang buruk.

Orang tua juga perlu mendengarkan dengan tenang, mengapresiasi kejujuran, dan memberikan masukan-masukan. Dalam situasi tersebut, penting bagi orang tua tidak kehilangan kendali emosi dan menghindari hukuman.

3. Mengenali Tanda-Tanda Kekerasan Seksual

Keluarga, terutama orang tua, perlu memahami tanda-tanda bahaya yang mungkin dialami anak. Beberapa tanda fisik dan psikologis yang perlu diwaspadai meliputi:
  • Perubahan perilaku: Anak menjadi lebih pendiam, menarik diri, atau menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan ketakutan yang berlebihan, atau ketidakstabilan emosi yang signifikan
  • Gangguan fisik: Luka atau tanda fisik yang tidak bisa dijelaskan, seperti perdarahan atau rasa sakit di area intim.
  • Perubahan dalam performa sekolah: Penurunan prestasi akademik atau masalah perilaku yang tidak biasa di sekolah, menurunnya motivasi ke sekolah, maupun rasa takut yang berlebihan untuk berkegiatan di luar rumah
  • Perubahan psikologis: Anak menunjukkan tanda-tanda depresi, kecemasan, atau ketakutan yang berlebihan terhadap orang tertentu.
Polisi

Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id.
 

Jika ada gejala-gejala ini, orang tua perlu segera melakukan penyelidikan dan mencari bantuan dari ahli profesional untuk memastikan bahwa anak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

4. Menjadi Role Model

Orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam hal menghormati batasan fisik dan emosional orang lain. Mengajarkan anak untuk menghormati tubuh orang lain dan menegaskan pentingnya consent dalam segala bentuk interaksi sosial sangat penting.

Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk menampilkan perilaku yang penuh penghormatan terhadap batasan yang dibuat oleh anak-anak.

5. Bertindak Cepat dan Tepat

Jika anak menjadi korban kekerasan seksual, penting bagi keluarga untuk memberikan dukungan penuh tanpa menyalahkan anak. Beban psikologis anak korban kekerasan seksual sungguh besar. Segera laporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang. Cari dukungan dari profesional seperti psikolog atau konselor anak untuk membantu pemulihan mental anak.

Proses hukum harus dilakukan dengan penuh perhatian dan menghindari dampak psikologis yang lebih besar pada anak.

(Muhamad Marup)