Musim Kemarau, 10 Desa di Purbalingga Terdampak Kekeringan

Petugas BPBD Kabupaten Purbalingga menyalurkan bantuan air bersih ke dalam bak penampungan di Desa Pandansari, Kecamatan Kejobong, Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis, 18 Juli 2026. ANTARA/HO-BPBD Purbalingga

Musim Kemarau, 10 Desa di Purbalingga Terdampak Kekeringan

Silvana Febiari • 20 July 2026 14:10

Purbalingga: BPBD Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mencatat 10 desa di enam kecamatan terdampak kekeringan. Sejumlah warga mulai membutuhkan bantuan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.

"Enam kecamatan tersebut meliputi Karangreja, Karanganyar, Pengadegan, Kejobong, Kemangkon, dan Rembang," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon Haprindiat, dilansir dari Antara, Senin, 20 Juli 2026. 

Jumlah desa terdampak masih berpotensi bertambah seiring musim kemarau yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Sejumlah mata air juga mulai mengalami penurunan debit sehingga pasokan air bersih di beberapa daerah ikut berkurang.
 


Selain faktor musim kemarau, kekeringan juga dipengaruhi oleh jaringan air yang belum sepenuhnya pulih akibat kerusakan pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor pada Januari 2026. Kondisi tersebut menyebabkan BPBD menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Serang dan Desa Kutabawa karena jaringan air belum kembali normal.

"Untuk Desa Serang dan Kutabawa memang belum pulih sehingga kami masih melakukan dropping dari awal," tegasnya.

BPBD bekerja sama dengan Perumdam Tirta Perwira Purbalingga untuk menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. Hingga kini, pasokan air dari Perumdam Tirta Perwira masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan warga.

Pihaknya mengimbau masyarakat bijak menggunakan air selama musim kemarau dengan menghemat pemakaian, memanfaatkan air sesuai kebutuhan, serta menjaga sumber air agar tetap tersedia hingga musim hujan tiba.


Ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.


Selain menangani dampak kekeringan, BPBD juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan api benar-benar padam setelah digunakan, terutama saat beraktivitas di kawasan hutan dan jalur pendakian.

"Jangan membuka lahan dengan cara membakar, jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan pastikan api benar-benar padam apabila menggunakan api untuk keperluan pendakian," ungkapnya.

Kawasan jalur pendakian menjadi salah satu lokasi yang rawan terjadi kebakaran hutan. Proses pemadaman cukup sulit akibat keterbatasan akses dan minimnya ketersediaan air di daerah pegunungan.

“Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk meminimalkan risiko karhutla selama musim kemarau,” ujar Revon.

(Silvana Febiari)