Tank Israel berpatroli di sekitar Lebanon. (Anadolu Agency)
Kalkulasi Militer Jadi Alasan Israel Tolak Masukkan Lebanon ke Gencatan Senjata
Dimas Chairullah • 11 April 2026 10:26
Jakarta: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara tegas menolak memasukkan Lebanon ke dalam peta jalan gencatan senjata, kurang dari 24 jam setelah kesepakatan jeda kemanusiaan disetujui oleh Amerika Serikat dan Iran pada 7-8 April kemarin.
Keputusan sepihak ini dinilai murni sebagai manuver militer Tel Aviv untuk memaksimalkan momentum gempuran, sekaligus menutupi krisis logistik persenjataan mereka.
Analis Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Dr. Fauzia G. Cempaka Timur, menjelaskan bahwa Israel sengaja mengesampingkan poin negosiasi yang diajukan Iran terkait Lebanon karena Tel Aviv masih berambisi memperluas buffer zone (zona penyangga) di wilayah Lebanon Selatan.
Ambisi ini dibuktikan dengan eskalasi serangan udara mematikan Israel yang terus berlanjut.
"Salah satu serangan paling besar sebenarnya dilakukan oleh Israel terhadap Hizbullah di Lebanon sejak perang ini dimulai. Dalam waktu 10 menit, dilancarkan 100 serangan udara atau 100 bom, dan korbannya lebih dari 300 orang," ungkap Dr. Fauzia kepada Metrotvnews.com, Jumat, 10 April 2026.
Menurut Fauzia, penolakan Netanyahu memiliki dua dimensi militer yang sangat krusial. Pertama, Israel menyadari mereka hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk melumpuhkan kekuatan Hizbullah sebelum tekanan internasional semakin menguat.
Kedua, dan yang tak kalah penting, adalah krisis logistik persenjataan. Berdasarkan analisis intelijen, stok amunisi lama milik militer Israel dikabarkan telah habis terkuras.
"Laporan menyebutkan bahwa persenjataan yang digunakan Israel saat ini sudah merupakan produksi baru dari tahun 2025 ke atas. Artinya stok lama sudah habis. Dalam jeda waktu dua minggu ini, ada pertimbangan untuk replenish (mengisi ulang) penguatan pasukan dan stok persenjataan mereka," jelas Fauzia.
Oleh karena itu, penolakan gencatan senjata di front utara bukanlah pilihan biner bagi Israel, melainkan momentum krusial untuk menyusun ulang kekuatan tempur.
Namun, langkah agresif Netanyahu ini dinilai sebagai manuver berbahaya yang berpotensi merusak seluruh arsitektur perdamaian di kawasan.
"Reaksi Netanyahu ini menjadi poin yang sangat rapuh bagi keberlanjutan gencatan senjata yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran," pungkas Fauzia.
Baca juga: Perang Informasi Menguat, Iran Disebut Unggul atas AS Meski Kalah di Medan Tempur