Perang Informasi Menguat, Iran Disebut Unggul atas AS Meski Kalah di Medan Tempur

Perang Iran melawan AS dan Israel meletus pada 28 Februari 2026. (Anadolu Agency)

Perang Informasi Menguat, Iran Disebut Unggul atas AS Meski Kalah di Medan Tempur

Dimas Chairullah • 11 April 2026 08:42

Jakarta: Menyikapi bantahan Gedung Putih terkait narasi kesepakatan 10 poin tuntutan perdamaian dengan Iran, Analis Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Dr. Fauzia G. Cempaka Timur, menilai tarik-ulur narasi tersebut merupakan bagian dari perang informasi (information warfare). 

Taktik perang urat saraf ini dinilai terus dimainkan secara masif oleh AS, Israel, maupun Iran sejak eskalasi memuncak pada 28 Februari lalu.

Fauzia menyebut, saat ini baik Amerika Serikat maupun Iran tengah berupaya membangun narasi kemenangan masing-masing menggunakan indikator dan basis empirik yang berbeda. 

Dari kacamata Teheran, keberhasilan mereka bertahan dari gempuran militer AS yang jauh lebih superior sudah dianggap sebagai sebuah kemenangan besar.

Selain itu, posisi geopolitik Iran dinilai makin kuat berkat kendali atas jalur perdagangan vital dunia.

"Tentu saja Iran memenangkan kontrol akan Selat Hormuz. Dengan adanya ceasefire atau gencatan senjata ini, menunjukkan bagaimana Selat Hormuz menjadi nilai tawar bagi Iran yang bisa membuat pihak lain, seperti Israel dan Amerika Serikat, untuk terpaksa mengikuti poin-poin counter proposal yang diberikan oleh Iran," ungkap Dr. Fauzia kepada metrotvnews.com, Jumat, 10 April 2026.

Di sisi lain, Fauzia juga memaparkan alasan kuat di balik klaim kemenangan Amerika Serikat. Kepercayaan diri Washington bertumpu pada keberhasilan strategi dekapitasi (pemotongan rantai komando) dan ketimpangan jumlah korban yang sangat signifikan di medan tempur.

"Korban antara AS dan Iran ini sangat berbeda jauh. Di pihak Iran, korban meninggal lebih dari 2.000 orang dan yang luka-luka bahkan mencapai 10.000 orang lebih. Sedangkan AS hanya mencatat 13 korban jiwa dengan korban luka tak lebih dari 1.000 orang," paparnya.

Keberhasilan AS menargetkan pucuk pimpinan strategis Iran, termasuk petinggi Garda Revolusi Iran (IRGC) hingga Ayatollah Khamenei yang dilaporkan gugur, menjadi indikator utama klaim kemenangan militer Washington.

Meski Iran menderita kerugian luar biasa secara jumlah pasukan dan struktur komando, Fauzia memberikan kesimpulan analitis bahwa secara hitung-hitungan geopolitik, posisi tawar Iran justru sedang berada di atas angin.

"Kalau kita lihat siapa yang sesungguhnya di atas angin, dalam konteks ini Iran memang is losing the battle, but winning the war. Mereka kalah dalam pertempuran karena jumlah korban yang besar, tetapi secara strategis mereka memenangkan peperangan," tegas Fauzia.

Pada akhirnya, perang psikologis dan adu narasi yang tengah berlangsung ini diyakini akan menjadi penentu arah konflik ke depannya. Hal ini akan menguji apakah momentum gencatan senjata sementara ini hanya sekadar jeda pertempuran atau mampu berevolusi menjadi meja negosiasi perdamaian yang permanen.

Baca juga:  Gedung Putih Klaim Narasi 10 Poin Rencana Damai Iran Tidak Akurat

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)