Masuk Puncak Kemarau, BPBD Gunungkidul Salurkan 920 Ribu Liter Air Bersih

Distribusi bantuan air bersih di lokasi kekeringan di Kabupaten Gunungkidul. Dokumentasi/BPBD Gunungkidul

Masuk Puncak Kemarau, BPBD Gunungkidul Salurkan 920 Ribu Liter Air Bersih

Ahmad Mustaqim • 4 August 2026 12:28

Gunungkidul: Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Pasokan bantuan air bersih sudah mendekati satu juta meter kubik hingga awal Agustus 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Purwono mengatakan total 184 tangki air telah didistribusikan kepada warga terdampak kekeringan. Dengan per tangki berisi 5.000 liter, artinya air terdistribusikan sebanyak 920 ribu liter.

"Terbanyak bantuan kami dropping di (Kecamatan) Rongkop sebanyak 80 tangki (420 ribu liter)," kata Purwono pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Berikutnya Kecamatan Tepus di-dropping sebanyak 64 tangki atau 320 ribu liter air. Sementara, warga di Kapanewon Panggang dan Wonosari dipasok 16 tangki atau 80 ribu liter air bersih. Adapun, Kecamatan Saptosari didistribusi delapan tangki atau 40 ribu liter air.

Purwono meminta masyarakat bijak menggunakan air pada puncak musim kemarau. Salah satu faktornya terbatasnya pasokan bantuan air bersih serta peningkatan laporan wilayah terdampak kekeringan.

Menurut dia, BMKG Yogyakarta memperkirakan Agustus menjadi periode puncak musim kemarau di Kabupaten Gunungkidul. Situasi sangat kering diperkirakan terjadi hingga awal November 2026 atau sebelum memasuki masa peralihan musim.

"Jangan dihambur-hamburkan sehingga harus berhemat agar stok yang dimiliki mencukupi," ujar Purwono.


Distribusi bantuan air bersih di lokasi kekeringan di Kabupaten Gunungkidul. Dokumentasi/BPBD Gunungkidul

Ia mengatakan memang ada sejumlah kecamatan yang mampu secara mandiri memenuhi kebutuhan air bersih warganya. Setidaknya, ada delapan kecamatan sudah bisa memasok kebutuhan air bersih ke titik-titik terdampak kekeringan.

Namun demikian, area terdampak kekeringan cukup luas. Purwono menyebut selain memakai anggaran reguler, pemerintah daerah menyiapkan pos Belanja Tak Terduga (BTT) untuk menangani dampak kekeringan.

"Apabila (anggaran bantuan air bersih) dari pos anggaran reguler habis, kami bisa mengakses BTT sehingga penyaluran bantuan tetap dapat dilaksanakan," kata dia

(Lukman Diah Sari)