Harga Minyak Dunia Kembali Menanjak Lebih dari 2%, Brent Dijual USD92/Barel

Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Freepik.

Harga Minyak Dunia Kembali Menanjak Lebih dari 2%, Brent Dijual USD92/Barel

Husen Miftahudin • 1 June 2026 10:33

Houston: Harga minyak dunia naik dalam perdagangan Asia pada Senin, karena pertempuran yang kembali terjadi antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon meningkatkan kekhawatiran atas risiko pasokan di Timur Tengah.

Mengutip Investing,com, Senin, 1 Juni 2026, harga minyak Brent berjangka sebagai patokan harga minyak internasional untuk pengiriman Agustus naik 2,1 persen menjadi USD92,99 per barel (satuan ukuran volume untuk minyak, setara dengan 159 liter).

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka sebagai standar untuk penetapan harga minyak di AS untuk kontrak jual atau beli di masa depan, juga naik 2,1 persen menjadi USD89,20 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah dalam seminggu turun sebanyak 10 persen untuk kedua kontrak, penurunan mingguan paling tajam dalam beberapa minggu terakhir, menyusul laporan Washington dan Teheran sedang membahas kerangka kerja gencatan senjata potensial yang pada akhirnya dapat mengurangi gangguan di sekitar Selat Hormuz.
 

Baca juga: Harga Minyak Turun Lagi Menunggu Kesepakatan AS-Iran


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Konflik Israel-Lebanon meningkat


Sentimen pasar berubah selama akhir pekan setelah Israel memerintahkan pasukannya untuk bergerak lebih dalam ke Lebanon selatan, meningkatkan kampanyenya terhadap Hizbullah meskipun ada upaya gencatan senjata sebelumnya.

Langkah tersebut kembali memicu kekhawatiran konflik dapat meluas lebih jauh ke seluruh wilayah dan mengancam infrastruktur energi atau jalur pelayaran.

Pada saat yang sama, negosiasi mengenai gencatan senjata yang lebih permanen antara AS dan Iran tampaknya terhenti. Para pejabat Iran mengisyaratkan isu-isu kunci masih belum terselesaikan, sementara laporan menunjukkan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata apa pun masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump.

Ketidakjelasan tersebut membuat para pedagang waspada terhadap gangguan lebih lanjut terhadap aliran minyak melalui Selat Hormuz, sebuah titik rawan yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global.

Pasar minyak telah berfluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir karena investor bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan mengenai perkembangan militer dan diplomasi.

Harga sempat turun pada Jumat setelah laporan menunjukkan adanya kemajuan menuju kesepahaman antara AS dan Iran, tetapi para analis mencatat pengiriman melalui Hormuz masih di bawah level normal dan kekhawatiran tentang pasokan belum hilang.

(Husen Miftahudin)