Dewan Redaksi Media Group Ahmad Punto. Foto: MI/Ebet.
Podium MI: Persaudaraan Dua Kekuatan
Ahmad Punto • 2 September 2026 05:59
ADA pemandangan yang mungkin sedikit luput dari perhatian di tengah hiruk-pikuk Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus baru-baru ini.
Ketika perhatian publik tertuju pada siapa yang akhirnya terpilih menjadi Rais Am dan Ketua Umum PBNU, juga pada sejumlah ketegangan dan kericuhan yang mewarnai jalannya muktamar, hadir sebuah posko yang tidak terlalu besar nan sederhana, tetapi membawa pesan yang meneduhkan.
Posko itu milik Muhammadiyah, sebuah organisasi keagamaan yang selama ini kerap dibanding-bandingkan, bahkan dihadap-hadapkan dengan NU. Namun, kali itu, Muhammadiyah datang ke hajatan NU bukan sebagai kompetitor, melainkan lembaga yang membuka posko klinik kesehatan dan menyediakan makanan gratis bagi peserta muktamar.
Sesungguhnya cara memahami dan mengaplikasikan persaudaraan itu mudah. Kita bisa lihat itu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di desa atau di kampung, ketika ada yang punya hajat, yang lain datang membantu. Itulah yang terjadi di Jombang, kemarin.
Posko kesehatan dan makanan gratis Muhammadiyah di arena Muktamar NU bahkan bisa menjadi simbol kecil akan persaudaraan yang lebih besar. Simbol yang bisa menunjukkan dua organisasi besar tidak harus selalu berhadapan. Mereka bisa hadir berdampingan demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Tidak ada data atau fakta yang bisa membantah, NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi Islam terbesar di negeri ini. Bahkan di Asia Tenggara. Keduanya memiliki sejarah panjang, jaringan lembaga pendidikan, rumah sakit, perguruan tinggi, dan lembaga sosial yang sangat luas, juga jutaan warga yang tersebar dari kota sampai pelosok.
Namun, sayangnya, selama ini kita lebih sering melihat keduanya dari sisi perbedaannya. Mana yang lebih besar dan berpengaruh, mana yang lebih modern, mana yang lebih dekat dengan pemerintah, dan lain-lain. Bahkan perbedaan yang sesungguhnya merupakan bagian dari khazanah keislaman acap berubah menjadi bahan perdebatan.
Contoh paling mudah dan hampir selalu kita temui setiap tahun ialah soal perbedaan metode penetapan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Sejatinya, berbeda dalam metode tidak berarti berbeda dalam tujuan, tetapi faktanya perdebatan seperti itu terkadang berkembang menjadi semacam pertandingan identitas.
NU dan Muhammadiyah boleh saja mempunyai cara pandang yang tidak selalu sama. Namun, keduanya tumbuh dan berkembang di Tanah Air yang sama dan menghadapi persoalan bangsa yang sama. Karena itu, semestinya kita tidak memandang mereka sebagai dua kubu yang harus diperbandingkan, tetapi dua kekuatan yang bisa saling melengkapi.
Perpaduan dua kekuatan besar itu amatlah penting mengingat persoalan yang dihadapi Indonesia hari ini jauh lebih besar ketimbang persoalan ego atau identitas organisasi. Masalah kemiskinan yang belum tuntas, pendidikan yang masih belum merata dan mahal, semua itu merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Belum lagi soal pengangguran, ketimpangan ekonomi dan sosial, persoalan kesehatan, dan ekonomi umat yang belum sepenuhnya berdaya. Jangan pula lupa masih ada banyak persoalan lain, mulai lingkungan yang semakin rusak, korupsi yang tak mati-mati, hingga politik yang belakangan sering kehilangan batas kepantasan.
Untuk menghadapi semua itu, negara butuh lebih dari sekadar kebijakan. Negara membutuhkan kekuatan masyarakat. Dalam konteks itu organisasi masyarakat berskala mega seperti NU dan Muhammadiyah tentu memiliki peran dan tanggung jawab moral yang besar.
Ketika ekonomi membuat sebagian orang tertinggal, masyarakat membutuhkan tangan yang membantu mereka bangkit. Pun ketika politik terlalu gaduh atau perbedaan politik membuat warga saling curiga, masyarakat memerlukan teladan bahwa berbeda pilihan tidak berarti harus bermusuhan. Di titik itulah kedua organisasi itu mestinya berada.

Muktmamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Foto: Metro TV/Jose.
NU dan Muhammadiyah kiranya bukan lagi sekadar organisasi keagamaan. Keduanya telah menjadi bagian penting dari infrastruktur sosial bangsa. Jaringan yang mereka miliki bahkan sering kali lebih dekat dengan masyarakat daripada banyak institusi formal pemerintah. Ketika keduanya bisa berjalan kompak, sesungguhnya yang mendapatkan manfaat bukan hanya warga NU atau Muhammadiyah, melainkan juga masyarakat luas.
Karena itu, pemandangan sejuk di Muktamar Ke-35 NU lalu semestinya tidak berhenti sebagai cerita. Jangan biarkan ia menjadi sekadar foto yang lewat di lini masa tentang Muhammadiyah yang membuka klinik kesehatan atau membagikan makanan gratis di Muktamar NU. Jadikan itu sebagai kebiasaan baru sehingga mampu mengikat persaudaraan lebih erat.
Secara organisasi, mereka sudah sama-sama besar, sama-sama kuat. Tak perlu dibanding-bandingkan atau dihadap-hadapkan. Justru sepantasnya kita dorong agar dua kekuatan itu bisa dikolaborasikan untuk membangun umat sekaligus memberdayakan masyarakat Indonesia.