Plt. Kepala Pusat Daya, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan. Foto; Tangkapan Layar Youtube Metro TV
BNPB: Penanganan Karhutla Terkendala Kondisi Lapangan
Muhamad Marup • 27 August 2026 22:51
Jakarta: Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, mengatakan, kondisi lapangan menjadi salah satu kendala terbesar dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Cuaca kering, angin, vegetasi yang mudah terbakar, keterbatasan air, serta sulitnya akses menuju titik api membuat proses pemadaman semakin menantang.
"Di beberapa lokasi, misalnya cuaca yang kering, angin, vegetasi yang mudah terbakar, kemudian keterbatasan air, akses melalui titik api membuat api lebih mudah untuk terbakar," ujar Berton, dalam program Kontroversi yang tayang di Metro TV, Kamis, 27 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. Deteksi dan verifikasi titik api, pemadaman, penyekatan, pendinginan, hingga pemantauan kembali harus dilakukan secara terpadu.
"Ketika sudah terbakar, potensinya terlihat apinya yang di atas saja, padahal di bawah kita tidak lihat," jelasnya.

Program Kontroversi. Foto: Metro TV
Berton mengamini harapan agar karhutla dapat diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga pekan. Menurutnya, hal terpenting adalah komitmen seluruh pihak untuk bersama-sama menyelesaikan penanganan kebakaran.
Ia mengungkapkan, BNPB menjalankan langkah pemadaman sekaligus pencegahan penyebaran api sejak titik kebakaran terdeteksi. Satgas darat dan satgas udara dikerahkan untuk melakukan verifikasi, pemadaman awal, serta penyekatan guna membatasi pergerakan api.
"Sementara satgas udara memberikan dukungan waterbombing pada lokasi yang sulit dijangkau," tambahnya.
Berton mengatakan pendinginan dan pemantauan setelah api terlihat padam juga menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala dan memicu kebakaran baru.
"Nah, yang tidak kalah penting adalah sebenarnya pendinginan dan pemantauan setelah api terlihat," katanya.
"Karena kita kan harus memadamkan api, ini membutuhkan air, dan air saat ini memang lagi surut," tuturnya.