Mengupas Kisah Dokter Forensik Sumy Hastry: Jasad yang 'Bercerita', Intuisi, hingga Pengalaman Diangkat ke Film

Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti. Dok: Q&A Metro TV

Mengupas Kisah Dokter Forensik Sumy Hastry: Jasad yang 'Bercerita', Intuisi, hingga Pengalaman Diangkat ke Film

Surya Perkasa • 7 September 2026 09:32

Jakarta: Sepak terjang Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti di dunia forensik kepolisian tak perlu diragukan lagi. Selama kurang lebih 22 tahun mengabdi, sosok yang kini menjabat sebagai Karodokpol Pusdokkes Polri ini telah berhadapan dengan ribuan jenazah dan rupa-rupa kasus kejahatan. Berbagai pengalaman tak biasa hingga dilema kariernya ia bagikan secara blak-blakan dalam program Q&A Metro TV edisi Minggu, 6 September 2026.

Pengalaman panjang itu rupanya mengasah insting Hastry hingga memiliki kemampuan khusus. Ia disebut-sebut bisa mengidentifikasi lebih awal penyebab jenazah meninggal hanya dari baunya. Kendati kemampuannya itu bersifat alami dan tak ada di buku literatur, ia menegaskan kebenarannya tetap harus bersandar pada sains.

"Bau itu cara saya mempercepat identifikasi apakah memang ada sesuatu yang masuk ke tubuhnya, seperti cairan gitu. Karena beda baunya. Tidak ada dalam teori. Kita tetap buktikan dengan ilmiah," ungkap Hastry, dalam program Q&A Metro TV, Minggu, 6 September 2026.

Tak terhitung jumlah kasus berat yang telah ia tangani. Bom Bali I menjadi salah satu momen terberat baginya karena harus mengidentifikasi 202 jenazah korban saat ia sendiri masih dalam masa pendidikan. Selain terorisme, kasus mutilasi juga menjadi tantangan besar.

"Kemudian kasus mutilasi pastinya (terberat). Karena tanpa identifikasi awal itu penyidik akan kesulitan mengungkap kasus tersebut," ungkap dia.

Ia mencontohkan kasus mutilasi pertamanya di Banyumas. Dari potongan tubuh yang tersebar di beberapa tempat, Hastry meneliti kedalaman luka hingga tulang untuk menyimpulkan bahwa korban hanya berjumlah satu orang, menepis dugaan awal adanya dua korban. Dari gaya tebasan pelaku, ia juga bisa membaca motif kejahatan dengan dibantu masukan dari teman-teman psikologi forensik.
 

 

Kasus besar rawan tekanan

Di balik ruang autopsi, integritas Hastry terus diuji tanpa pandang bulu. Namanya kerap terseret pusaran kasus profil tinggi yang rawan tekanan, mulai dari ekshumasi jenazah Sutrimo yang merupakan orang dekat mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, hingga tes DNA anak Lisa Mariana yang sempat dikaitkan dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK). Di tengah sorotan publik, Hastry menjamin tak ada rekayasa dalam hasil kerjanya.

"22 tahun jadi dokter forensik tidak pernah mengalami intervensi. Kasus ini sama seperti yang lain. Kami memeriksa dengan tim laboratorium yang lengkap," tegasnya. Terkait tes DNA, ia menambahkan, "Kita sudah cek semuanya, dari awal pengambilan semua, ada berita acara sampai ke laboratorium sampai semuanya. Hasil keluar itu apa adanya tidak ada yang dimanipulasi."

Tugas seorang ahli forensik rupanya tak melulu soal mengungkap penyebab kematian. Ada kalanya tugas tersebut beririsan langsung dengan proses pencabutan nyawa. Hastry bercerita bahwa ia adalah sosok yang ditugaskan memberikan tanda bidik di tubuh gembong narkoba Freddy Budiman sebelum dieksekusi mati.

"Waktu itu tugas saya beri tanda bidik mempercepat dia mati juga. Kalau tidak diberi tanda bidik itu ada SOP nya juga," beber Hastry. Ia menyebut titik tembak biasanya berdekatan, di mana ada tiga peluru eksekutor yang pada akhirnya bersarang di tubuh Freddy.
   

Tantangan profesi dokter forenksi

Meski teknologi kepolisian kian maju, Hastry tak memungkiri ada sejumlah kasus yang berujung buntu, seperti tewasnya mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di danau beberapa tahun silam. Menurutnya, berpacu dengan waktu adalah kunci. Waktu paling ideal untuk identifikasi adalah tidak lebih dari 36 jam, namun pelaksanaannya sering kali terbentur perizinan keluarga. Selain itu, rusaknya Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga menjadi masalah utama.

"Olah TKP awal itu kunci terungkapnya kasus cepat atau tidak. Seringkali olah TKP tidak lengkap tidak bagus, karena sudah terkontaminasi oleh masyarakat yang niatnya baik, untuk membantu," jelasnya.


Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti bercerita tentang beragam pengalamannya sebagai dokter forensik dalam Q&A Metro TV, Minggu, 6 September 2026.

Kendala di lapangan juga kerap datang dari penolakan warga. Dalam sebuah kasus, Hastry bahkan terpaksa melakukan proses autopsi langsung di dalam kuburan yang digali cukup luas. Hal itu terjadi lantaran masyarakat sekitar menolak jenazah seorang teroris dikeluarkan dari liang lahat karena dianggap sebagai aib.

Perjalanan panjang nan penuh misteri ini kini tak lagi sekadar menjadi catatan kepolisian. Kisah dr. Hastry resmi diangkat ke layar lebar lewat film Autopsy: Dead Body Can Talk yang disutradarai Ozan Ruz dan mulai tayang di bioskop pada 3 September 2026. Diperankan oleh aktris Masayu Anastasia, film bergenre pengetahuan ilmiah ini mengangkat empat kasus nyata yang diwarnai petunjuk clue lewat mimpi.

Selain mengungkap misteri kasus, film produksi Karya Kreatif Utama ini juga menyoroti sisi humanis seorang dokter forensik, terutama dilema antara panggilan tugas dan keluarga.

"Antara karier pekerjaan dan keluarga itu berat. Waktu anak-anak masih kecil, usia masih sekitar 30-40 tahun itu dilematik banget. Satu sisi saya punya keahlian dan harus membantu yang tidak kenal waktu. Di sisi lain ada anak-anak yang butuh perhatian," ungkap Hastry. Ia menyadari betul bahwa pencapaian dan kekuatannya bertahan hingga saat ini tak lepas dari dukungan penuh orang tua, suami, dan anak-anaknya.

(Surya Perkasa)