Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti. Q&A Metro TV.
Cerita Dokter Hastry Identifikasi Kasus Mutilasi Hingga DNA RK-Lisa Mariana
Arga Sumantri • 6 September 2026 21:40
Jakarta: Brigadir Jenderal Sumy Hastry Purwanti menjadi sosok penting di balik hasil identifikasi forensik kepolisian pada banyak kasus. Ia terlibat dalam sejumlah identifikasi forensik kasus penting.
Hastry bercerita, salah satu kasus yang cukup berat ialah mengidentifikasi kasus mutilasi. Kasus mutilasi pertama yang ditangani Hastry yakni terjadi di Banyumas.
Kala itu, diduga ada dua korban mutilasi. Ternyata, setelah diidentifikasi, korban dipastikan hanya satu orang. Hastry meneliti bagian-bagian tubuh yang ditemukan hingga akhirnya menyimpulkan korbannya hanya satu orang.
"Bagian tubuh ditemukan beberapa tempat, kita identifikasi satu korban. Luka-luka di tubuh diteliti, berapa dalam lukanya, mengenai tulang atau tidak, dan lain sebagainya," beber dia dalam Program Q&A Metro TV yang tayang Minggu, 6 September 2026.
Ia juga menceritakan pengalaman mengidentifikasi kasus mutilasi lainnya. Dari bagian tubuh yang ditemukan, Hastry mengidentifikasi motif hingga latar belakang aksi keji itu.
"Ada yang tebasannya bagus sekali, rapi. Ada juga setelah dimutilasi ditaruh di tempat umum. Kita juga mendapat masukan dari teman-teman psikologi forensik," beber dia.

Program Q&A Metro TV edisi Minggu, 6 September 2026.
Kasus Ridwan Kamil-Lisa Mariana hingga Freddy Budiman
Hastry juga terlibat dalam proses mengidentifikasi kecocokan DNA anak Lisa Mariana dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK). Kasus ini sempat ramai menjadi sorotan publik.Hasil identifikasi kepolisian kalau DNA anak Lisa Mariana tidak identik dengan Ridwan Kamil. Hastry memastikan tak ada rekayasa atas identifikasi tersebut.
"Kita sudah cek semuanya, dari awal pengambilan semua, ada berita acara sampai ke laboratorium sampai semuanya. Hasil keluar itu apa adanya tidak ada yang dimanipulasi," ungkap Hastry. Hastry juga menjadi sosok yang memberi tanda bidik pada tubuh gembong narkoba Freddy Budiman ketika dieksekusi mati. Hastry diberi tugas memberikan tanda bidik agar tim eksekusi menembak pada titik yang cepat membuat Freddy meninggal.
"Waktu itu tugas saya beri tanda bidik mempercepat dia mati juga. Kalau tidak diberi tanda bidik itu ada SOP nya juga," ungkap Karodokpol Pusdokkes Polri tersebut.
Ia bercerita, ada tiga peluru yang bersarang pada tubuh Freddy Budiman. Sesuai SOP, ada tiga peluru yang dimasukkan pada senjata para eksekutor.
"Titik tembak itu bisa satu tapi biasanya lebih, berdekatan. Kan senjatanya yang masuk tiga peluru juga," ungkap dia.