10 Teknologi Penyadapan Canggih, dari Pegasus hingga IMSI Catcher

Ilustrasi Pexels

10 Teknologi Penyadapan Canggih, dari Pegasus hingga IMSI Catcher

Putri Purnama Sari • 4 November 2026 20:55

Jakarta: Perkembangan teknologi komunikasi membuat metode penyadapan dan pengawasan digital semakin beragam. Jika dahulu penyadapan identik dengan pemantauan percakapan melalui jaringan telepon, kini praktik tersebut dapat melibatkan perangkat lunak pengintai, eksploitasi jaringan seluler, hingga analisis lalu lintas data internet.

Sejumlah teknologi bahkan mampu mengumpulkan informasi dari perangkat elektronik tanpa disadari penggunanya. Informasi yang dapat diperoleh pun beragam, mulai dari identitas perangkat, metadata komunikasi, lokasi, hingga isi percakapan dalam kondisi tertentu.

Meski demikian, tidak semua teknologi tersebut secara langsung digunakan untuk menyadap komunikasi. Beberapa di antaranya merupakan teknik serangan siber, sistem intersepsi yang memiliki dasar hukum, serta metode pemeriksaan forensik digital.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut 10 teknologi dan metode yang berkaitan dengan penyadapan serta pengawasan komunikasi digital.

10 Teknologi Penyadapan Canggih

1. IMSI Catcher

IMSI Catcher merupakan teknologi pengawasan jaringan seluler yang bekerja dengan meniru fungsi menara pemancar atau Base Transceiver Station (BTS). Perangkat ini juga dikenal sebagai Cell-Site Simulator atau Stingray.

Cara kerjanya memanfaatkan mekanisme ponsel yang secara otomatis mencari dan terhubung dengan jaringan seluler terdekat. Dalam kondisi tertentu, IMSI Catcher dapat membuat ponsel di area jangkauannya terhubung ke pemancar yang dikendalikan operator perangkat tersebut.

Salah satu informasi yang dapat dikumpulkan adalah IMSI (International Mobile Subscriber Identity), yakni identitas unik pelanggan dalam jaringan seluler. Informasi ini dapat membantu mengidentifikasi perangkat dan melacak keberadaannya.

Dilansir dari Canadian Centre for Cyber Security, IMSI Catcher dapat digunakan untuk mengumpulkan identitas perangkat dan metadata panggilan. Dalam konfigurasi tertentu, teknologi ini juga dapat digunakan untuk memperoleh informasi komunikasi serta melacak pergerakan pengguna ponsel.
2. Pegasus

Pegasus merupakan perangkat lunak pengintai atau spyware yang dikembangkan perusahaan teknologi asal Israel, NSO Group. Teknologi ini dirancang untuk mengumpulkan informasi dari perangkat seluler yang menjadi sasaran pengawasan.

Kemampuannya mencakup pengumpulan pesan, kontak, foto, dokumen, riwayat penelusuran, hingga informasi lokasi. Dalam kondisi tertentu, Pegasus juga dapat mengaktifkan mikrofon dan kamera perangkat untuk mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitar pengguna.

Salah satu kemampuan yang membuat Pegasus menjadi perhatian adalah penggunaan metode zero-click. Melalui metode ini, perangkat dapat terinfeksi tanpa mengharuskan pemiliknya mengeklik tautan atau membuka lampiran tertentu.

Kemampuan tersebut membuat serangan menggunakan spyware tingkat tinggi lebih sulit dikenali karena tidak selalu melibatkan tindakan langsung dari pengguna.

3. SS7 Exploitation


Ilustrasi freepik

Signaling System No. 7 (SS7) merupakan protokol persinyalan yang digunakan dalam jaringan telekomunikasi untuk mengatur berbagai proses komunikasi, termasuk panggilan telepon, pengiriman SMS, dan perpindahan koneksi ant jaringan.

Protokol ini memiliki peran penting dalam operasional jaringan seluler. Namun, kelemahan keamanan atau akses tidak sah terhadap jaringan persinyalan dapat membuka peluang penyalahgunaan. Kondisi tersebut dikenal sebagai SS7 Exploitation.

Dalam skenario serangan tertentu, pelaku dapat memanfaatkan sistem persinyalan untuk memperoleh informasi pelanggan, mengetahui lokasi perangkat, atau memanipulasi pengalihan komunikasi.

Penyalahgunaan protokol ini menunjukkan bahwa keamanan jaringan telekomunikasi tidak hanya bergantung pada perangkat pengguna, tetapi juga pada perlindungan infrastruktur jaringan yang digunakan.

4. Deep Packet Inspection (DPI)

Deep Packet Inspection (DPI) merupakan teknologi analisis jaringan yang mampu memeriksa paket data secara lebih mendalam dibandingkan pemeriksaan lalu lintas jaringan biasa.

Ketika seseorang menggunakan internet, perangkatnya mengirim dan menerima paket data melalui jaringan. DPI memungkinkan sistem memeriksa karakteristik paket tersebut, termasuk informasi pada lapisan aplikasi apabila dapat diakses.

Teknologi ini dapat digunakan untuk mengenali jenis aplikasi, mengidentifikasi protokol komunikasi, mendeteksi aktivitas mencurigakan, dan mengawasi penggunaan jaringan.

DPI juga dapat membantu mengumpulkan informasi mengenai pola komunikasi digital. Namun, teknologi ini tidak otomatis mampu membaca seluruh isi pesan yang dilindungi enkripsi end-to-end.

Kemampuan pemeriksaannya bergantung pada jenis data, konfigurasi jaringan, serta perlindungan enkripsi yang diterapkan. Karena itu, DPI juga banyak digunakan dalam bidang keamanan siber untuk mendeteksi ancaman dan mengelola lalu lintas jaringan.

5. Zero-Click Exploit

Zero-Click Exploit bukan nama perangkat penyadapan, melainkan teknik serangan siber yang memanfaatkan celah keamanan pada perangkat elektronik.

Berbeda dengan metode phishing yang mengandalkan korban untuk mengeklik tautan berbahaya, serangan zero-click dapat berlangsung tanpa tindakan tersebut.

Teknik ini memanfaatkan kerentanan pada sistem operasi atau aplikasi yang memproses data secara otomatis. Apabila celah berhasil dieksploitasi, pelaku dapat memperoleh akses tertentu ke perangkat sasaran.

Dalam kasus spyware tingkat tinggi, metode ini dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk memasang perangkat lunak pengintai.

Pegasus merupakan salah satu contoh spyware yang diketahui menggunakan metode zero-click. Teknik ini menjadi ancaman yang sulit dikenali karena tidak selalu melibatkan tautan mencurigakan atau tindakan langsung dari pengguna.

6. Satellite Communication Interception

Selain jaringan seluler dan internet, komunikasi berbasis satelit juga dapat menjadi objek intersepsi atau penyadapan. Teknologi komunikasi satelit digunakan untuk mengirimkan informasi melalui hubungan antara perangkat pengguna, satelit, dan stasiun bumi.

Sistem ini mendukung berbagai layanan, mulai dari komunikasi suara, pengiriman data, hingga konektivitas di wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Dalam kondisi tertentu, transmisi komunikasi satelit dapat menjadi sasaran pemantauan atau intersepsi. Namun, kemampuan mengakses isi komunikasi bergantung pada arsitektur jaringan, mekanisme autentikasi, serta enkripsi yang digunakan.

Artinya, keberadaan sinyal satelit yang dapat diterima oleh suatu perangkat tidak otomatis membuat isi komunikasinya dapat dibaca.
  7. Lawful Interception


Ilustrasi freepik

Lawful Interception (LI) merupakan sistem yang memungkinkan lembaga penegak hukum memperoleh informasi komunikasi melalui penyedia layanan telekomunikasi berdasarkan kewenangan hukum yang berlaku.

Teknologi ini berbeda dari spyware yang bekerja dengan menyusup langsung ke perangkat pengguna. Lawful Interception memanfaatkan mekanisme teknis dalam infrastruktur jaringan operator.

Informasi yang dapat diteruskan melalui sistem ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu Intercept Related Information (IRI) dan Content of Communication (CC). IRI mencakup informasi mengenai aktivitas komunikasi, seperti waktu, identitas pihak yang berkomunikasi, serta informasi jaringan. Sementara itu, CC mencakup isi komunikasi yang menjadi objek intersepsi.

European Telecommunications Standards Institute (ETSI) mengembangkan berbagai standar teknis untuk mendukung penerapan sistem tersebut. Standar ETSI mengatur mekanisme permintaan intersepsi, pengendalian sistem, hingga pengiriman informasi dari penyedia layanan kepada lembaga yang berwenang.

Dengan demikian, Lawful Interception bukan satu alat penyadapan tertentu, melainkan sistem teknis yang mendukung pelaksanaan intersepsi komunikasi secara sah.

8. Network Injection

Network Injection merupakan teknik yang memanfaatkan lalu lintas komunikasi jaringan untuk mengarahkan perangkat ke konten atau alamat tertentu. Dalam serangan spyware, teknik ini dapat digunakan untuk mengarahkan perangkat sasaran menuju infrastruktur berbahaya yang dirancang untuk mengeksploitasi celah keamanan.

Berbeda dengan serangan yang mengandalkan pesan phishing, teknik ini dapat memanfaatkan manipulasi lalu lintas jaringan ketika perangkat sedang mengakses internet.

Amnesty International Security Lab menjelaskan bahwa network injection pernah digunakan sebagai salah satu metode infeksi dalam sistem Pegasus. Teknik tersebut dapat melibatkan manipulasi koneksi jaringan untuk mengarahkan perangkat menuju alamat yang digunakan dalam proses pemasangan spyware.

Keberhasilannya bergantung pada posisi pelaku dalam jalur komunikasi, konfigurasi jaringan, dan kerentanan perangkat yang menjadi sasaran.

9. Digital Forensic Extraction

Digital Forensic Extraction merupakan teknologi dan metode pemeriksaan forensik untuk mengambil informasi dari perangkat elektronik, termasuk ponsel. Proses ini dapat digunakan untuk memperoleh data yang tersimpan dalam perangkat, seperti foto, dokumen, kontak, riwayat komunikasi, dan informasi aplikasi.

Hasil pemeriksaan kemudian dianalisis untuk merekonstruksi aktivitas digital serta menemukan informasi yang relevan dalam suatu investigasi. Kemampuan ekstraksi bergantung pada model perangkat, sistem operasi, metode pemeriksaan, dan tingkat akses yang tersedia.

Berbeda dari spyware yang dapat memantau perangkat dari jarak jauh, ekstraksi forensik umumnya dilakukan terhadap perangkat yang berada dalam penguasaan pemeriksa.

Oleh karena itu, teknologi ini lebih tepat dikategorikan sebagai metode pengumpulan dan pemeriksaan bukti digital daripada sistem penyadapan jarak jauh.
  10. Network Traffic Analysis

Network Traffic Analysis merupakan teknologi yang digunakan untuk mempelajari pola lalu lintas data dalam suatu jaringan. Sistem ini tidak harus membaca isi pesan untuk memperoleh informasi. Analisis dapat dilakukan melalui frekuensi pertukaran data, durasi koneksi, serta identitas sumber dan tujuan komunikasi.

Teknologi ini dapat dikombinasikan dengan kecerdasan buatan dan machine learning untuk mengenali perilaku jaringan yang menyimpang. Analisis pola komunikasi dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas suatu perangkat atau jaringan, meskipun isi komunikasinya terenkripsi.

Teknologi Network Traffic Analysis juga digunakan dalam keamanan siber untuk mendeteksi anomali, mengidentifikasi ancaman, dan menelusuri kemungkinan kebocoran informasi.

Berbagai teknologi tersebut menunjukkan bahwa pengawasan komunikasi digital dapat dilakukan melalui beragam metode, mulai dari pemantauan jaringan seluler hingga analisis aktivitas perangkat dan lalu lintas internet. Namun, setiap teknologi memiliki fungsi, kemampuan, serta batasan yang berbeda.

(Siti Nahdia Usman)

(Putri Purnama Sari)