7 Tradisi Unik Maulid di Dunia, dari Balapan Keledai hingga Pamer Rambut Nabi

Ulama memegang Moi-e-Muqqadas, terduga relik rambut Nabi Muhammad, di Masjid Dargah Hazratbal, Srinagar, Kashmir. (Tales of Kashmir)

7 Tradisi Unik Maulid di Dunia, dari Balapan Keledai hingga Pamer Rambut Nabi

Riza Aslam Khaeron • 25 August 2026 19:56

Jakarta: Umat Islam di Indonesia kembali memperingati Hari Raya Maulid Nabi Muhammad saw. pada hari ini, Selasa, 25 Agustus 2026. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia, tanggal tersebut bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah dan ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional.

Maulid menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad saw.. Di Indonesia, peringatan ini lazim diisi dengan pengajian, pembacaan selawat, ceramah keagamaan, hingga kegiatan sosial.

Namun, cara memperingati Maulid dilaksanakan secara beragam di berbagai penjuru dunia. Peringatan keagamaan tersebut kerap berpadu dengan kebudayaan setempat sehingga melahirkan tradisi yang khas, mulai dari arak-arakan lilin raksasa, pembuatan boneka gula, hingga balapan keledai.

Berikut 7 tradisi unik perayaan Maulid Nabi di berbagai negara:
 

1. Boneka Gula Maulid di Mesir


Foto: Daily News Egypt

Salah satu ikon perayaan Maulid di Mesir adalah Arouset al-Moulid, yaitu boneka perempuan dengan pakaian dan hiasan semarak yang secara tradisional dibuat dari gula, dihias warna-warni, serta dijual bersama figur kuda gula dan halawet al-moulid (aneka manisan khas Maulid) .

Tradisi boneka gula telah melekat dalam peringatan Maulid masyarakat Mesir selama beberapa generasi. Tradisi ini sering dikaitkan dengan masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, dinasti Syiah Ismailiyah yang berkuasa di Mesir pada 973–1171 M dan memiliki catatan sejarah perayaan Maulid tertua di dunia.

Mengutip media Mesir Ahram Online, merujuk pada buku Moulid Doll (1967) karya Abdel Ghany Al-Nabawi Al-Shal, dalam suatu perayaan Maulid di Dinasti Fatimiyah, lembaga pengelola pasokan gula resmi negara (Dar Al-Fetra) membungkus sekitar 20 ton manisan yang disajikan dalam 300 nampan tembaga untuk dibagikan dalam perayaan resmi negara.

Al-Shal menilai tradisi khas Mesir ini juga dipengaruhi oleh akar budaya kuno. Menurutnya, peninggalan kuil dan papirus menunjukkan tradisi serupa pada era Mesir Kuno yang kemudian dihidupkan kembali dalam perayaan keagamaan pada era Fatimiyah.
 

2. Pawai Lilin Raksasa di Salé, Maroko


Foto: Mounir Mehimdate/Hespress FR

Di kota Salé, Maroko, warga menggelar tradisi Mawkib al-Shumu' atau Pawai Lilin menjelang peringatan Maulid Nabi.

Lilin yang digunakan dalam pawai ini bukan lilin yang biasa masyarakat gunakan di dalam rumah saat mati lampu. Para pengrajin dalam festival ini, membuat rangka kayu besar berbentuk kubah dan menara yang dihiasi lilin warna-warni serta berbagai ornamen. Bobot satu struktur lilin raksasa tersebut bahkan dapat mencapai 50 kilogram.

Struktur lilin tersebut diarak melewati jalan-jalan di kota tua Salé menuju makam Sidi Abdellah Ben Hassoun. Pemerintah Kota Salé mencatat bahwa tradisi karnaval seni dan keagamaan ini telah berlangsung sejak abad ke-16, tepatnya pertama kali pada tahun 988 Hijriah atau 1578 Masehi.

Tradisi ini disebut bermula setelah Sultan Dinasti Saadi di Maroko, Ahmad al-Mansur (berkuasa 1578–1603 M), menyaksikan perayaan Maulid berbasis penggunaan lilin di Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) di Istanbul, lalu memperkenalkannya di Maroko. Dahulu tradisi ini digelar di berbagai kota besar di seluruh penjuru negeri, namun kini hanya bertahan dan dilestarikan di kota Salé.
 

3. Assida Zgougou di Tunisia


Ilustrasi: Wikimedia Commons.

Selain Mesir, masyarakat Tunisia juga menyambut hari kelahiran Nabi dengan membuat makanan manis tradisional khas lainnya, yang disebut dengan nama assida zgougou.

Hidangan ini berupa krim atau puding yang diolah dari biji pinus Aleppo (zgougou). Bagian atas sajian ini umumnya diberi lapisan krim manis serta dihiasi kacang pistachio, kenari, buah kering, dan dekorasi manis lainnya.

Mengutip media Tunisia, La Presse, penggunaan biji pinus Aleppo sebagai bahan pangan bermula dari peristiwa kekeringan dan kelaparan hebat yang melanda Tunisia pada paruh kedua abad ke-19. Makanan yang awalnya menjadi alternatif bahan pangan saat krisis tersebut kemudian berkembang menjadi hidangan khas dalam perayaan Maulid.
 

4. Membaca Syair Sufi Selama 10 Malam di Senegal


Foto: APS

Di Senegal, perayaan Maulid dikenal dengan sebutan Gamou. Salah satu pusat perayaannya berlokasi di Tivaouane, kota yang menjadi pusat perkembangan tarekat Tijaniyah.

Menjelang Gamou, jemaah di Tivaouane menjalankan tradisi membaca Qasidat al-Burda, atau yang secara lokal dikenal dengan nama Burd, yakni bait-bait puisi pujian kepada Nabi Muhammad saw. karya penyair sufi Imam al-Busiri (1212–1294 M).

Pembacaan ini dilakukan secara berjamaah di masjid selama 10 malam berturut-turut dan diikuti oleh warga setempat serta peziarah dari luar daerah.

Meskipun Qasidat al-Burda karya al-Busiri telah lama dikenal dalam tradisi Islam sufi, tradisi pembacaan rutin selama 10 malam di Tivaouane ini dikembangkan oleh ulama Senegal, El Hadji Malick Sy, yang menjadikan Tivaouane sebagai pusat tarekat Tijaniyah pada awal abad ke-20.
   

5. Balapan Keledai dan Perahu Dhow di Lamu, Kenya


Para peserta lomba balap keledai berkompetisi selama Festival Budaya Lamu tahunan di Lamu, Kenya, 29 November 2024. (Xinhua/Han Xu)

Perayaan Maulid di Lamu, Kenya, memadukan kegiatan keagamaan dengan tradisi budaya masyarakat Swahili dalam festival Lamu Maulidi.

Selain pembacaan doa dan selawat, rangkaian acara di kota tua pesisir Afrika Timur ini meliputi pameran kaligrafi, pawai budaya, serta perlombaan balapan keledai dan perahu tradisional dhow.

Keledai memiliki peran penting dalam mobilitas warga Lamu karena jalur kota tua yang sempit tidak memungkinkan dilintasi kendaraan bermotor. Sementara itu, perahu dhow merupakan bagian dari warisan maritim masyarakat pesisir Swahili.

Menurut tulisan Tom Mboya Olali, pengajar di Universitas Nairobi, dalam The Conversation, tradisi Maulid di Lamu dan wilayah Afrika Timur lainnya digagas oleh ulama Habib Swaleh Jamal al-Layl pada tahun 1866.

Habib Swaleh, yang merupakan keturunan garis keluarga Nabi Muhammad, dikenal sebagai tokoh pembaharu sosial yang membuka akses pendidikan Islam bagi kelompok masyarakat keturunan budak pada masanya.
 

6. Pamer Relik Rambut Nabi di Kashmir


Ulama memegang Moi-e-Muqqadas. (Excelsior/Shakeel)

Di wilayah Kashmir, pusat peringatan Maulid bertempat di Masjid Dargah Hazratbal, Srinagar.

Masjid ini menyimpan Moi-e-Muqqadas, relik yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai helai rambut Nabi Muhammad saw.. Pada hari-hari besar keagamaan termasuk Maulid, relik tersebut diperlihatkan kepada jemaah dalam tradisi yang disebut deedar atau ziyarat.

Pengelola masjid mengeluarkan wadah kaca berhias perak yang berisi Moi-e-Muqqadas, kemudian memperlihatkannya dari balkon atas masjid kepada ribuan jemaah yang hadir.

Catatan lokal menyebutkan bahwa relik tersebut pertama kali dibawa ke Asia Selatan oleh seorang keturunan Nabi, Syed Abdullah Madani pada tahun 1635, ulama dari Madinah yang sempat bermukim di Vijayapura, India.

Dalam satu kisah, seorang saudagar Kashmir kaya bernama Khwaja Nuruddin Ishbari atau Eshai diriwayatkan berhasil memperoleh relik itu dengan harga yang disebut mencapai 100.000 rupee. Relik tersebut kemudian dibawa ke Kashmir dan ditempatkan di Masjid Dargah Hazratbal hingga saat ini.

Tradisi penghormatan terhadap rambut Rasulullah saw bisa dilacak kembali di dalam hadis. Berdasarkan salah satu riwayat hadis shahih, Rasulullah saw. pernah datang ke Mina, mencukur rambutnya, dan membagikan potongan rambut tersebut kepada para sahabat:



Artinya: Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya Rasulullah saw. mendatangi Mina, lalu menuju Jamrah dan melempar jumrah. Setelah itu beliau menuju tempat penginapannya di Mina dan menyembelih hewan kurban. Kemudian beliau memanggil tukang cukur, mengisyaratkan bagian kanan kepalanya untuk dicukur, lalu bagian kiri, kemudian membagikan potongan rambut tersebut kepada orang-orang. (HR. Muslim no. 1305a).
 

7. Melantunkan Puisi Vesiletu'n-Necat di Turki

Di Turki, masyarakat memperingati Maulid dengan melantunkan karya sastra Vesiletu'n-Necat yang ditulis oleh penyair dan ulama Utsmaniyah, Süleyman Çelebi, pada awal abad ke-15.

Puisi keagamaan yang dikenal pula dengan sebutan Mevlid ini berisi naskah pujian serta kisah kehidupan Nabi Muhammad saw., syair tersebut biasanya dibacakan diiringi dengan melodi khusus dalam perayaan Maulid.

Tradisi pembacaan Mevlid telah berlangsung sejak era Kesultanan Utsmaniyah. Selain pada momen Maulid, masyarakat Turki dan kawasan Balkan juga melantunkan Mevlid dalam berbagai peristiwa penting, seperti kelahiran anak, pernikahan, dan pelepasan jamaah haji.

(Riza Aslam Khaeron)