Perbedaan Tanggal Kelahiran Rasulullah, dari 12 hingga 17 Rabiul Awal

Ilustrasi freepik

Perbedaan Tanggal Kelahiran Rasulullah, dari 12 hingga 17 Rabiul Awal

Riza Aslam Khaeron • 25 August 2026 13:21

Jakarta: Umat Muslim pada hari ini tengah memperingati Hari Raya Maulid Nabi Muhammad pada Selasa, 25 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
 
Tanggal 12 Rabiul Awal secara umum dikenal sebagai hari kelahiran Rasulullah. Namun, tidak semua kelompok Muslim menyepakati tanggal tersebut. Beberapa kalangan Muslim memiliki penanggalan yang berbeda dalam memperingati hari kelahiran Nabi.

Berikut perbedaan penanggalan hari kelahiran Rasulullah di antara beberapa kalangan Muslim:
 

Syiah 12 Imam: 17 Rabiul Awal


Ilustrasi freepik

Sebagian besar umat Syiah saat ini, khususnya dari kelompok 12 Imam (Imamiyah) yang merupakan aliran Syiah terbesar, memperingati Maulid Nabi pada tanggal 17 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.

Penetapan ini didasarkan pada catatan dalam Tahdhib al-Ahkam karya Syekh al-Tusi, salah satu dari empat kitab utama Syiah. Diriwayatkan bahwa Abu Ishaq bin Abdullah al-Alawi al-Uraydi bertemu dengan Imam Ali al-Hadi, imam kesepuluh tradisi Imamiyah, untuk menanyakan hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa:

“Hari-hari itu ada empat: pertama, 27 Rajab, hari ketika Allah mengutus Muhammad kepada makhluk-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam; dan hari kelahirannya, yaitu 17 Rabiul Awal.” (HR. al-Tusi dalam Tahdhib al-Ahkam, jilid 4, hlm. 305, no. 922).

Peringatan pada tanggal ini dapat ditelusuri kembali hingga abad ke-11 Masehi, sebagaimana tercatat dalam karya ulama al-Shaykh al-Mufid (meninggal 1022 M).

“Tanggal tujuh belas Rabiul Awal adalah hari kelahiran (maulid) junjungan kita, Rasulullah, pada terbit fajar hari Jumat di Tahun Gajah. Ini adalah hari mulia yang penuh keberkahan; sejak masa-masa awal, kaum Syiah selalu memuliakannya, mengakui haknya, dan menghormati kesuciannya dengan berpuasa secara sukarela pada hari tersebut,” tulis al-Mufid dalam bukunya Hada’iq al-riyad wa-zahrat al-murtad wa-nur al-mustarshid, sebagaimana dikutip Marion Holmes Katz dalam The Birth of the Prophet Muhammad (2007).
 

Dinasti Fatimiyah: 13 Rabiul Awal

Catatan tertulis tertua mengenai peringatan Maulid berasal dari masa Dinasti Fatimiyah, sebuah dinasti beriliran Syiah Ismailiyah yang berkuasa di Mesir pada 973–1171 M.

Berdasarkan buku Muhammad's Birthday Festival (1993) karya N.J.G. Kaptein, sumber tertulis tertua yang mencatat perayaan Maulid adalah karya Ibnu al-Ma’mun (meninggal 30 Mei 1192 M). Meskipun naskah asli Ibnu al-Ma’mun telah hilang, tulisannya berulang kali dikutip oleh sejarawan Muslim abad pertengahan, seperti al-Maqrizi (1364–1442 M) dalam karyanya, Khitat.

Dalam kitab tersebut, Ibnu al-Ma’mun meriwayatkan bahwa Dinasti Fatimiyah merayakan Maulid pada tanggal 13 Rabiul Awal, berbeda dengan tradisi Imamiyah (17 Rabiul Awal) maupun mayoritas Muslim saat ini (12 Rabiul Awal).

“Selanjutnya ia (Ibnu al-Ma’mun, pada tahun 517 H/1123 M) menulis: bulan Rabiul Awal telah tiba, dan kita akan memulai dengan hal yang membuat bulan tersebut termasyhur, yaitu merujuk pada hari kelahiran Junjungan Orang-Orang Pertama dan Terakhir, Muhammad, pada hari ke-13 (Rabiul Awal),” tulis al-Maqrizi dalam Khitat halaman 432–433.

Saat ini, beberapa kelompok Syiah Ismailiyah merayakan Maulid antara tanggal 12 Rabiul Awal atau mengikuti tradisi Syiah Imamiyah pada 17 Rabiul Awal.
   

Kenapa 12 Rabiul Awal Sekarang Lebih Populer?

Tidak ada hadis shahih yang menyebutkan secara spesifik bahwa Rasulullah lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal. Informasi mengenai hari kelahiran Nabi umumnya merujuk pada riwayat yang hanya menyebutkan hari Senin tanpa menyebutkan tanggal pastinya:



Artinya: “Itu (puasa Senin) adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus, atau hari wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim).

Adapun riwayat lain, yang tingkat kesahihannya masih menjadi perdebatan di antara para ulama, menyebutkan keterangan dari sahabat Qais bin Makhramah yang menyatakan Rasulullah lahir di Tahun Gajah:



Artinya: “Aku dan Rasulullah dilahirkan pada Tahun Gajah.” (HR. Tirmidzi).

Berdasarkan ulasan Dr. Yasir Qadhi, seorang akademisi dan pengajar di AlMaghrib Institute, penanggalan 12 Rabiul Awal sebagai hari kelahiran Nabi dikemukakan oleh Ibnu Ishaq (meninggal 767 M), salah satu penyusun biografi Nabi (sirah) paling awal dan otoritatif.

Ibnu Ishaq menyatakan, tanpa mencantumkan sanad atau rujukan lain, bahwa Nabi lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal, pada Tahun Gajah.

Sumber klasik lainnya, Ibnu Katsir (meninggal 1372–1373 M), seorang sejarawan abad pertengahan, memaparkan berbagai pendapat mengenai tanggal kelahiran Nabi dalam karyanya, al-Bidayah wa al-Nihayah. Ia menyebutkan bahwa mayoritas ulama sepakat Nabi lahir pada bulan Rabiul Awal, tetapi berbeda pendapat mengenai tanggal pastinya, antara lain:
  1. Tanggal 2 Rabiul Awal.
  2. Tanggal 8 Rabiul Awal.
  3. Tanggal 10 Rabiul Awal.
  4. Tanggal 12 Rabiul Awal.
  5. Tanggal 17 Rabiul Awal.
  6. Tanggal 22 Rabiul Awal.
  7. Dalam bulan Ramadan (tanpa tanggal spesifik) pada Tahun Gajah.
  8. Tanggal 12 Ramadan pada Tahun Gajah.
Menurut Dr. Yasir Qadhi, dari sekian banyak pendapat tersebut, tanggal 8 dan 10 Rabiul Awal sebenarnya merupakan pendapat yang lebih populer selama lima abad pertama Islam.

Namun, tanggal 12 Rabiul Awal kemudian menjadi yang paling populer, salah satu faktor pendorong dikarenakan kedudukan Ibnu Ishaq. Kitab Sirah karyanya menjadi rujukan utama dalam penulisan biografi Nabi pada masa-masa berikutnya, sehingga banyak ulama yang kemudian mengutip pendapatnya tanpa mengedepankan pendapat-pendapat lainnya.

(Riza Aslam Khaeron)