Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Foto: dok Metrotvnews.com
OJK: Investor Ritel 30 Juta Jadi Kekuatan Baru Pasar Modal Indonesia
Husen Miftahudin • 3 September 2026 10:57
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyoroti pertumbuhan jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia yang kini mencapai sekitar 30 juta investor. Pertumbuhan tersebut dinilai mengubah karakteristik pasar modal nasional dibandingkan periode sebelumnya.
Friderica mengatakan jumlah investor ritel yang besar membuat basis investor pasar modal Indonesia semakin dalam. Kondisi ini berbeda dibandingkan masa lalu ketika jumlah investor ritel masih sangat terbatas.
"Kalau kita lihat pasar modal, saat ini jumlah investor ritel kita sudah 30 juta, ini luar biasa. Jadi kalau dulu kepusingan kita itu misalnya terjadi krisis di pasar modal, kepusingan kita adalah asing keluar, di market kita itu belum dalam," ujar Friderica dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang diselenggarakan Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Menurut dia, pada periode sebelumnya jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia hanya sekitar 250 ribu. Dengan pertumbuhan hingga sekitar 30 juta investor, tantangan pengembangan pasar modal kini ikut berubah.
Reformasi pasar modal mulai dorong perbaikan
Friderica mengatakan OJK terus melakukan berbagai reformasi di pasar modal, termasuk dalam aspek transparansi, peningkatan likuiditas, serta penegakan hukum.
Ia mencontohkan berbagai langkah yang dilakukan OJK setelah peristiwa yang berkaitan dengan MSCI pada awal tahun. OJK juga menerapkan sejumlah kebijakan, termasuk high shareholders concentration list dan memperkuat penegakan hukum.
"Memang kalau kita melihat saat ini dengan berbagai reformasi yang kita lakukan seperti MSCI event di awal tahun ini, dan kita melihat bagaimana sebetulnya saat ini dengan berbagai transformasi yang kita lakukan, baik itu terkait transparansi, peningkatan likuiditas, enforcement, dan lain-lain, itu saat ini kita melihat market kita sudah mulai membaik," jelas dia.
Friderica juga menyebut pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini mulai konvergen atau bergerak lebih sejalan dengan sejumlah indeks utama, termasuk MSCI Indonesia dan FTSE 100.
Menurut dia, sebelumnya sempat terjadi kondisi ketika IHSG bergerak sendiri dan tidak sejalan dengan indeks-indeks utama. Namun, kondisi tersebut mulai berubah seiring dengan berbagai pembenahan di pasar modal.
"IHSG sudah mulai konvergen dengan indeks-indeks utama seperti MSCI Indonesia, kemudian dengan FTSE 100. Ada satu masa sebelum terjadi MSCI event, itu IHSG terbang sendiri, tidak sejalan dengan indeks-indeks utama," ungkap dia.
Friderica mengatakan IHSG juga mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami tekanan. Selain itu, aliran dana dari investor nonresiden secara month to date mulai kembali masuk ke pasar domestik.
"Jadi kalau kita melihat market saat ini, IHSG kita sekarang sudah mulai rebound dan kemudian kita lihat juga walaupun ini nonresidence, month to date sudah mulai masuk. Ini juga berita bagus," tutur dia.

(Ilustrasi. Foto: dok MI)
Investor domestik terus bertumbuh
Selain mendorong pembenahan struktur pasar, OJK juga melihat pertumbuhan investor domestik sebagai perkembangan positif. Friderica mengatakan investor ritel perlu terus didampingi agar memiliki pemahaman yang memadai sebelum berinvestasi di pasar modal.
"Dan juga dengan berbagai inisiatif yang sudah kita lakukan, investor domestik kita mulai bertumbuh. Ini ritel perlu kita dampingi supaya mereka teredukasi, mereka masuk ke market tahu memilih saham-saham yang baik, dan sebagainya. Ini PR kita semua," tukas Friderica.