Kerusakan akibat serangan rudal Iran di Israel. (Anadolu Agency)
Israel Sebut 3.100 Orang Terluka Sejak Awal Konflik dengan Iran dan Hizbullah
Willy Haryono • 15 March 2026 21:01
Tel Aviv: Otoritas Israel mengungkapkan bahwa lebih dari 3.100 orang terluka dan harus dirawat di rumah sakit sejak konflik dengan Iran dan Lebanon meluas dalam dua pekan terakhir.
Dilansir dari Yeni Safak, Minggu, 15 Maret 2026, Kementerian Kesehatan Israel menyatakan para korban luka telah dibawa ke berbagai rumah sakit di seluruh negeri setelah serangkaian serangan rudal dan drone.
Dari total angka yang dilaporkan, 81 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Konflik semakin meluas setelah kelompok Hizbullah asal Lebanon mulai menyerang target militer Israel pada 2 Maret.
Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu Ayatollah Ali Khamenei di Teheran pada 28 Februari.
Langkah tersebut sekaligus mengakhiri gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang sebelumnya disepakati pada November 2024.
Di hari yang sama, Israel memperluas operasi militernya dengan melancarkan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut serta berbagai wilayah di Lebanon selatan dan timur. Sehari kemudian, pasukan Israel juga melakukan serangan darat terbatas ke Lebanon selatan.
Kondisi Kemanusiaan di Lebanon
Konflik yang meluas ini juga menimbulkan dampak kemanusiaan besar di Lebanon.Menurut data resmi otoritas Lebanon, serangan Israel telah menewaskan 626 orang, melukai 2.009 lainnya, dan memaksa sekitar 832.000 warga mengungsi dari wilayah yang terdampak.
Gelombang pengungsian tersebut menjadi salah satu perpindahan penduduk terbesar di kawasan dalam beberapa tahun terakhir dan memberikan tekanan besar terhadap infrastruktur serta bantuan kemanusiaan di Lebanon.
Konflik di Timur Tengah melibatkan beberapa negara dan aktor regional, termasuk Iran, Israel, Lebanon, serta berbagai kelompok proksi di kawasan.
Pertukaran serangan yang terus berlanjut menimbulkan kekhawatiran internasional karena jumlah korban sipil yang terus meningkat dan stabilitas kawasan yang semakin terancam.
Baca juga: Sekjen PBB Tegaskan Tak Ada Solusi Militer untuk Konflik Lebanon