Jakarta: Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Ismail mendorong kolaborasi lebih kuat antara Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) dan Dinas Kebudayaan (Disbud). Terutama, untuk mengangkat kembali kejayaan Budaya Betawi melalui sektor pariwisata.
Ia menilai pengenalan Budaya Betawi kepada wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, belum dijalankan secara masif “Sebenarnya Budaya Betawi punya potensi untuk dieskpos,” ujar Ismail melalui keterangannya, Selasa, 25 November 2025.
Politikus PKS itu menekankan bahwa langkah optimistis harus ditempuh agar budaya asli Jakarta ini kembali mendapat tempat di kancah internasional.
Menurut dia, kelemahan utama masih terletak pada minimnya sinergitas antar-SKPD yang memiliki tugas langsung dalam pengembangan potensi budaya dan pariwisata.
Ismail mengungkapkan, dirinya sudah pernah mengusulkan agar Pemprov menyediakan ruang khusus di lobi-lobi hotel untuk menampilkan promosi Budaya Betawi.
Ruang tersebut dapat menampilkan beragam pertunjukan seperti lenong, topeng belantek, tanjidor, rebana biang, hingga ondel-ondel dan tari tradisional Betawi. Gagasan itu, kata dia, akan memperkuat sinergi antara Disparekraf dan Disbud dalam memperkenalkan kekayaan Betawi kepada publik.
Dorongan ini sekaligus menjadi implementasi dari amanat Peraturan Daerah No 4/2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi.
"Dinas Pariwisata yang membuat regulasi terkait penempatannya di tiap-tiap destinasi wisata,” ujar Ismail.
Ia menambahkan, Dinas Kebudayaan dapat berperan dengan menyalurkan sanggar-sanggar Betawi yang memiliki berbagai jenis kesenian untuk mengisi ruang promosi tersebut. Ketersediaan ruang tampil dinilai penting untuk memastikan kesenian Betawi tidak hanya hidup, tetapi juga terus berkembang.
Selain seni pertunjukan, Ismail juga menyarankan strategi lain yang menurutnya justru sangat mendasar: memperbanyak penjualan cinderamata dan kuliner Betawi di ruang-ruang wisata, hotel, hingga perkantoran.
DPRD DKI Jakarta/Ilustrasi MI
Produk seperti kaus bergambar ikon Betawi, gantungan kunci ondel-ondel, hingga lukisan bertema Betawi disebutnya sebagai elemen penting untuk memperkuat identitas kota.
Kuliner seperti bir pletok, kerak telor, dan kue cucur juga seharusnya mudah ditemukan. Namun kenyataannya, kata Ismail, kondisinya jauh dari ideal.
"Sampai sekarang di Jakarta masih sulit cenderamata didapat. Berbeda sekali dengan di Jogja. Hal ini juga PR yang harus diselesaikan,” pungkas Ismail.