Ilustrasi freepik
Mengapa Anak Butuh Didengarkan? Psikolog Ungkap Penjelasannya
Putri Purnama Sari • 13 July 2026 19:17
Jakarta: Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa memenuhi hak anak tidak hanya sebatas memberikan pendidikan, makanan bergizi, atau perlindungan dari kekerasan.
Anak juga memiliki hak untuk didengar, dihargai pendapatnya, dan diajak berkomunikasi secara sehat oleh orang tua maupun lingkungan terdekatnya.
Menurut Psikolog Klinis Forensik lulusan Universitas Indonesia A Kasandra Putranto, kebiasaan mendengarkan anak memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan emosi, rasa percaya diri, hingga hubungan yang harmonis antara anak dan orang tua.
"Ketika anak merasa didengar, mereka belajar bahwa perasaan dan pikirannya bernilai. Sebaliknya, jika interaksi hanya berupa perintah, larangan, atau ceramah, anak cenderung lebih sulit mengembangkan keterbukaan, kepercayaan, dan kemampuan mengelola emosinya," ujar Kasandra kepada Metrotvnews.com, Senin, 13 Juli 2026.
Lantas, mengapa anak lebih membutuhkan untuk didengar ketimbang sekadar didikte? Berikut penjelasannya.
Mengapa Anak Butuh Didengarkan?
1. Membuat Anak Merasa Aman Secara Emosional

Ilustrasi freepik
Kasandra menjelaskan bahwa anak yang mendapatkan respons hangat dan penuh empati dari orang tua akan memiliki rasa aman secara emosional. Kondisi ini menjadi dasar bagi anak untuk berani belajar, bereksplorasi, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Hal tersebut sejalan dengan teori secure attachment dari John Bowlby, yang menyebutkan bahwa ikatan emosional yang aman antara anak dan pengasuh berperan penting dalam perkembangan psikologis anak.
"Ketika orang tua mendengarkan cerita, ketakutan, maupun pendapat anak tanpa langsung menghakimi, anak merasa bahwa lingkungannya aman," kata Kasandra.
2. Membantu Anak Mengenali dan Mengelola Emosi
Selain memberikan rasa aman, mendengarkan juga membantu anak memahami emosi yang sedang dirasakan.
Kasandra mengatakan, ketika orang tua memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaan, anak akan lebih mudah mengenali emosi, memberi nama pada perasaannya, dan belajar mengekspresikannya dengan cara yang sehat.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep emotion coaching yang dikembangkan oleh John Gottman, yang menekankan pentingnya pendampingan orang tua dalam perkembangan kecerdasan emosional anak.
3. Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak
Kasandra menjelaskan bahwa perhatian penuh dari orang tua membuat anak merasa dirinya dihargai sebagai individu, bukan hanya ketika mereka berhasil memenuhi harapan orang tua.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan harga diri sekaligus rasa percaya diri anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Teori unconditional positive regard dari Carl Rogers juga menjelaskan bahwa penerimaan tanpa syarat membantu seseorang berkembang secara optimal.
4. Anak Lebih Mudah Diajak Bekerja Sama

Ilustrasi freepik
Tidak sedikit orang tua langsung menasihati anak ketika mereka sedang marah atau menangis. Padahal, menurut Kasandra, anak yang sedang berada dalam kondisi emosi tinggi justru sulit menerima arahan.
Karena itu, orang tua perlu membangun koneksi emosional terlebih dahulu sebelum memberikan koreksi atau nasihat.
"Otak anak tidak dapat menerima nasihat secara efektif ketika sedang berada dalam kondisi emosi yang tinggi, anak lebih kooperatif ketika merasa dipahami," tambahnya.
Pendekatan ini dikenal melalui prinsip "Connect Before Correct" yang diperkenalkan oleh Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson.
5. Melatih Kemampuan Berpikir Kritis
Komunikasi yang baik tidak hanya membuat anak merasa nyaman, tetapi juga membantu perkembangan kemampuan berpikir.
Kasandra menjelaskan bahwa ketika orang tua mengajak anak berdiskusi dan mendengarkan pendapat mereka, anak belajar menyusun logika, mempertimbangkan sudut pandang orang lain, memecahkan masalah, hingga mengambil keputusan.
Sebaliknya, pola komunikasi yang hanya berisi perintah membuat anak cenderung mengikuti instruksi tanpa memahami alasan di baliknya.
Pandangan ini selaras dengan teori perkembangan kognitif Lev Vygotsky, yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar anak.
6. Memperkuat Hubungan Orang Tua dan Anak
Menurut Kasandra, manfaat terbesar dari mendengarkan anak adalah terciptanya hubungan yang lebih dekat dan penuh kepercayaan.
"Anak yang merasa didengar akan lebih mungkin mencari orang tua ketika menghadapi masalah di masa remaja dibandingkan mencari pelarian yang kurang sehat," lanjutnya.
Hal tersebut juga sejalan dengan pandangan Haim Ginott, yang menyebutkan bahwa kualitas komunikasi keluarga lebih ditentukan oleh bagaimana orang tua merespons perasaan anak dibandingkan banyaknya nasihat yang diberikan.
Pentingnya Menjadi Pendengar bagi Anak
Mendengarkan anak bukan berarti selalu menuruti semua keinginannya. Sebaliknya, mendengarkan merupakan bentuk penghargaan terhadap perasaan dan pendapat anak sehingga mereka merasa aman, dihargai, dan dipercaya.
Dengan membangun komunikasi dua arah sejak dini, orang tua tidak hanya membantu perkembangan emosional dan mental anak, tetapi juga menciptakan hubungan yang hangat dan terbuka hingga mereka tumbuh dewasa.