Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Kembali Tembus USD90

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Kembali Tembus USD90

Eko Nordiansyah • 19 August 2026 08:25

Houston: Harga minyak naik untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu, 19 Agustus 2026, di tengah ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan minyak global.

Mengutip Investing, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,45% menjadi USD85,32 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka Brent naik 0,29 persen atau 26 sen menjadi USD91,28 per barel.

Harga Brent dan WTI telah menguat dalam beberapa sesi terakhir dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga minggu. Kenaikan tersebut terjadi ketika ketidakpastian mengenai kondisi Selat Hormuz kembali meningkat.

Ketegangan AS-Iran berlanjut

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa, tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun dialog yang dijadwalkan dengan Iran. Trump juga menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka.

Sebaliknya, Iran membantah adanya pembicaraan dengan AS serta menyatakan Selat Hormuz masih ditutup. Teheran mengatakan jalur pelayaran tersebut akan tetap ditutup hingga AS memenuhi ketentuan dalam kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Perbedaan posisi kedua negara membuat prospek pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut masih belum jelas. Lalu lintas kapal komersial melalui Selat Hormuz juga masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi utama dunia. Gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga.

Persediaan minyak AS

Tekanan terhadap pasokan juga menjadi perhatian pasar setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan perubahan persediaan minyak mentah AS.

Data API menjadi indikator awal bagi laporan persediaan resmi pemerintah AS yang dirilis Energy Information Administration (EIA). Pelaku pasar mencermati data tersebut untuk melihat perkembangan keseimbangan pasokan dan permintaan minyak di AS.

Selain persediaan komersial, posisi Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS juga menjadi perhatian. Data terbaru menunjukkan cadangan minyak strategis AS berada pada level terendah sejak awal 1980-an.

Kondisi tersebut membuat ruang penyangga pasokan AS lebih terbatas ketika gangguan distribusi minyak global masih berlangsung.

Pergerakan harga minyak selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan hubungan AS-Iran, kondisi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, serta data persediaan minyak AS.

(Eko Nordiansyah)