Saham Asia Menguat, Pasar Pantau Inflasi dan Ketegangan Teluk

Ilustrasi, bursa saham Asia. Foto: china.org.cn

Saham Asia Menguat, Pasar Pantau Inflasi dan Ketegangan Teluk

Husen Miftahudin • 10 August 2026 08:28

Sydney: Pasar saham Asia bergerak menguat pada Senin mengikuti penguatan Wall Street pada akhir pekan. Sentimen pasar mendapat dukungan dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap kenaikan biaya pinjaman dalam waktu dekat.

Namun, ketidakpastian mengenai pembicaraan perdamaian di kawasan Teluk membuat harga minyak kembali naik. Pasar juga masih mencermati perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Mengutip Investing.com, Senin, 10 Agustus 2026, indeks Nikkei Jepang tercatat naik 0,6 persen pada Senin pagi, sedangkan indeks saham Korea Selatan menguat 0,5 persen. Indeks saham Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang juga naik tipis 0,3 persen.

Berbeda dengan pasar Asia, kontrak berjangka sejumlah indeks utama Eropa bergerak turun. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun 0,1 persen. Sementara kontrak berjangka FTSE melemah 0,4 persen.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,1 persen. Kontrak berjangka Nasdaq bergerak relatif datar setelah indeks tersebut menguat 5 persen pada pekan sebelumnya. Penguatan Nasdaq didorong serangkaian laporan kinerja perusahaan yang positif.
 

 

Pasar menanti data inflasi AS


Iran pada Minggu menyatakan kesepakatan dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, Iran kembali menegaskan jalur air tersebut baru akan dibuka setelah Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.

Kondisi tersebut membuat aktivitas pengiriman melalui jalur strategis tersebut masih berjalan lambat dan menjaga kekhawatiran terhadap pasokan energi.

Kenaikan harga bahan bakar menjadi perhatian menjelang rilis data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Juli pada Rabu. Analis memperkirakan inflasi utama naik 0,1 persen, sedangkan inflasi inti diproyeksikan meningkat 0,2 persen.

Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.

"Perkiraan kami untuk CPI inti sebesar 0,22 persen mungkin belum cukup pasti untuk mendorong kenaikan suku bunga dari The Fed pada pertemuan September, meskipun angka berulang yang mendekati 0,3 persen bisa saja memicu hal itu," kata Kepala Ekonom AS JPMorgan Michael Feroli.

"Salah satu hal yang kami pantau adalah kemungkinan pemulihan harga barang pokok setelah penurunan selama dua bulan," lanjut dia.

Pasar berjangka kini memperkirakan peluang perubahan suku bunga pada September sekitar 44 persen, turun dari 67 persen sepekan sebelumnya.

Penurunan ekspektasi tersebut turut mendukung penguatan obligasi pemerintah AS pada Jumat. Wall Street juga ditutup pada level tertinggi sepanjang masa. Sentimen positif tersebut kemudian merambat ke pasar saham Asia.


(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
 

Imbal hasil treasury naik tipis


Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS atau Treasury tenor 10 tahun naik tipis menjadi 4,673 persen. Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar bersiap menghadapi penerbitan obligasi baru senilai USD125 miliar sepanjang pekan ini.

Sementara itu, penurunan imbal hasil sebelumnya serta membaiknya sentimen risiko secara umum mendorong dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Euro berada sedikit di bawah level tertinggi tujuh minggu di USD1,1557.

Di pasar komoditas, penurunan imbal hasil obligasi turut mendukung harga emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Harga emas bertahan di sekitar USD4.342 per ons setelah mencatat kenaikan lebih dari tujuh persen pada pekan sebelumnya.

(Husen Miftahudin)