Karhutla di Gunung Ciremai Meluas hingga 40 Hektare

Kondisi puncak di Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.

Karhutla di Gunung Ciremai Meluas hingga 40 Hektare

Silvana Febiari • 10 September 2026 20:04

Kuningan: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 40 hektare.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan mengatakan kebakaran terjadi di Blok Cileutik, Kecamatan Pasawahan, Desa Singkup, pada Senin, 7 September 2026.

 "Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, sementara kerugian material tercatat sekitar 40 hektare lahan terdampak dan masih dalam proses pendataan," kata Berton dalam keterangan tertulis, Kamis, 10 September 2026.


Berton mengatakan, tim gabungan masih melakukan penanganan di lokasi. Pemadaman dilakukan menggunakan jetshooter dan secara manual, disertai penyekatan serta pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.

Hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 20.00 WIB, titik api sudah tidak terlihat. Meski demikian, tim masih melakukan penyekatan dan pendinginan di sejumlah area.

Penanganan karhutla melibatkan TNGC, BPBD Kabupaten Kuningan, TNI, Polri, serta aparat desa dan kecamatan. Tim gabungan juga masih membutuhkan tambahan personel, peralatan pemadaman karhutla, dan logistik untuk mendukung penanganan di lapangan.

"BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan selama musim kemarau," imbau Berton, 


Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar saat meninjau kondisi karhutla di kawasan Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Rabu, 9 September 2026. ANTARA/HO-Pemkab Kuningan

Warga diminta menghemat penggunaan air bersih, menyiapkan sumber air alternatif, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar.

Warga diminta segera melaporkan titik api atau kelangkaan air kepada BPBD maupun aparat setempat. Mereka juga diimbau memantau informasi prakiraan cuaca dari BMKG untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas.

(Silvana Febiari)