Xi Jinping dijamu baik oleh Presiden Donald Trump tetapi substansi pertemuan rendah. Foto: The New York Times
Pertemuan Trump-Xi di Washington Meriah, tapi Ekspektasi Terobosan Rendah
Muhammad Reyhansyah • 25 September 2026 08:55
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut Presiden Tiongkok Xi Jinping di Gedung Putih pada Kamis, 24 September 2026 dalam KTT kenegaraan yang berlangsung meriah.
Namun, pertemuan tersebut diperkirakan minim terobosan substantif di tengah berbagai perselisihan kedua negara, mulai dari kecerdasan buatan (AI), perdagangan, Taiwan hingga perang Iran.
Isu Taiwan, yang menjadi salah satu persoalan paling sulit dalam hubungan AS-Tiongkok, dibahas dalam pertemuan bilateral kedua pemimpin. Xi mendesak AS menentang “kemerdekaan Taiwan”, menurut keterangan kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, setelah pertemuan berakhir.
Xi sebelumnya diperkirakan akan mendesak Trump menghentikan penjualan senjata AS ke Taiwan. Setelah kunjungannya ke Tiongkok pada Mei, Trump mengatakan dirinya menunda paket penjualan senjata senilai sekitar USD14 miliar kepada Taiwan dan menyebutnya sebagai “alat tawar yang sangat baik”.
Keputusan tersebut membuat sejumlah sekutu AS di Asia dan sebagian anggota Partai Republik khawatir Trump dapat melonggarkan dukungan Washington terhadap Taipei demi memperoleh keuntungan ekonomi dari Tiongkok.
Tiongkok selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Taiwan merupakan pulau yang memiliki pemerintahan sendiri dan mengandalkan kekuatan AS untuk menghadapi ancaman dari Beijing.
Meski mendukung Taiwan, AS secara tradisional menghindari mengambil sikap resmi mengenai kemerdekaan pulau tersebut.
Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump memuji “persahabatan yang benar-benar hebat” dengan Xi dan mengatakan kedua negara telah mencapai kemajuan dalam perdagangan sejak kunjungannya ke Tiongkok pada Mei.
“Dalam kunjungan ini, kami juga akan membahas isu-isu mendesak terkait keamanan, teknologi, dan ‘super intelligence’,” kata Trump, menggunakan istilah alternatifnya untuk kecerdasan buatan, dikutip dari Channel News Asia, Jumat, 25 September 2026.
“Keputusan yang kita buat di bidang-bidang ini hari ini dapat mendorong perdamaian dan kemakmuran selama puluhan tahun,” lanjut Trump.
Xi mengatakan persaingan antara AS dan Tiongkok seharusnya berlangsung secara “sehat”. Ia juga mengatakan perusahaan-perusahaan AS dipersilakan beroperasi di Tiongkok dan berharap perusahaan Tiongkok diperlakukan secara adil di AS.
Xi juga mengatakan kedua militer perlu mempertahankan komunikasi rutin untuk meningkatkan pencegahan krisis.
“Perangkap Thucydides dapat diatasi,” kata Xi, merujuk pada teori akademis mengenai risiko persaingan antara kekuatan yang sedang bangkit dan kekuatan yang telah mapan berkembang menjadi konflik terbuka.
KTT tersebut menjadi kunjungan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade sekaligus pertemuan kedua Trump dan Xi tahun ini.
Kemeriahan di Gedung Putih
Bagi Trump, yang dikenal menyukai seremoni dan hubungan dekat dengan para pemimpin kuat, kunjungan Xi menjadi ajang untuk menunjukkan prestise nasional sekaligus diplomasi tingkat tinggi.Trump berupaya membalas penyambutan besar yang diterimanya saat berkunjung ke Tiongkok pada Mei.
Trump menyambut Xi pada Rabu malam dengan karpet merah di landasan Pangkalan Gabungan Andrews. Menurut C-SPAN, itu merupakan pertama kalinya seorang presiden AS menyambut pemimpin asing di pangkalan tersebut sejak Presiden Barack Obama menyambut Paus Fransiskus pada 2015.
Setelah pernyataan kedua pemimpin pada Kamis, Trump dan Xi menyaksikan upacara militer yang mencakup atraksi terbang di Rose Garden. Bendera Tiongkok juga dikibarkan di atap Gedung Oval berdampingan dengan bendera AS sebelum pertemuan bilateral mereka.
Namun, kemeriahan tersebut berlangsung di tengah sejumlah persoalan yang masih membayangi hubungan kedua negara.
Terobosan Besar Sulit Tercapai
Para analis menilai terobosan besar dalam KTT tersebut kecil kemungkinan terjadi. Hasil konkret yang mungkin dicapai antara lain perpanjangan gencatan perdagangan yang akan berakhir pada November serta kesepakatan untuk mengkaji ancaman yang ditimbulkan AI.Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan setelah pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng bahwa kedua pihak sepakat memperpanjang hingga 10 Januari kesepakatan yang sebelumnya menghentikan perang dagang dengan tarif timbal balik yang sempat melampaui 100 persen.
Trump juga mengatakan “super intelligence” akan menjadi salah satu topik utama pembicaraan. Namun, ia kembali mengindikasikan tidak tertarik memberlakukan regulasi baru terhadap AI.
Sementara itu, Xi mengatakan AS dan Tiongkok memiliki “kemampuan dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi kebaikan, serta memastikan pengembangannya selalu berada di bawah kendali manusia.”
Persaingan ketat kedua negara di bidang AI dinilai dapat membatasi ruang untuk menghasilkan kesepakatan yang lebih jauh dari sekadar pernyataan simbolis.
Menjaga Hubungan Tetap Stabil
Pembicaraan kedua pemimpin juga berpotensi menghasilkan kesepakatan untuk menurunkan sejumlah tarif, memerangi perdagangan narkoba, serta memperluas komunikasi militer.Trump juga diperkirakan akan meminta pembebasan warga AS dan orang lain yang ditahan di Tiongkok.
Di sisi lain, Xi memiliki posisi tawar yang kuat setelah perdagangan Tiongkok meningkat dan Beijing tetap mengendalikan pasokan mineral tanah jarang yang menjadi salah satu sumber pengaruhnya.
Kedua pemimpin memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan tetap stabil. Trump tengah menghadapi perang Iran yang tidak populer di dalam negeri, sementara Xi menghadapi tantangan ekonomi domestik. Namun, sejumlah persoalan masih berpotensi kembali memicu ketegangan, termasuk Taiwan, pengendalian ekspor dan AI.
Perang Iran juga diperkirakan menjadi salah satu pembahasan. Namun, sejauh ini belum terlihat tanda bahwa Beijing bersedia menekan sekutunya untuk memenuhi tuntutan AS.
Jamuan kenegaraan pada Kamis turut dihadiri sejumlah pemimpin perusahaan teknologi besar, termasuk CEO Apple Tim Cook, Amazon Jeff Bezos, Alphabet Sundar Pichai, OpenAI Sam Altman, Tesla Elon Musk dan Nvidia Jensen Huang.
Meski dihadiri tokoh-tokoh industri teknologi, sejumlah pihak yang mengetahui rencana AS mengatakan Trump kemungkinan tetap mempertahankan pengendalian ekspor terhadap teknologi AS yang ingin diperoleh Xi.