Nahdlatul Ulama. Dok. Medcom
Muktamar NU Harus Lahirkan Pemimpin Berintegritas
M Sholahadhin Azhar • 2 August 2026 17:53
Jakarta: Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diharapkan melahirkan pemimpin berintegritas. Muktamar akan digelar di Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
“Selain itu, pemimpin NU perlu memiliki wawasan nasional dan global, menjaga independensi organisasi dengan tidak menjadi bagian dari partai politik maupun tidak sedang menduduki jabatan politik, serta mampu menjadikan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang tetap kritis sekaligus konstruktif,” kata tokoh muda NU Hatim Gazali, dalam keterangan yang dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.
Menurut dia, NU bukan sekadar organisasi masyarakat keagamaan. Tetapi, kekuatan sosial yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan umat, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Menurut survei Alvara Research Center pada akhir 2025, ada 140 juta jiwa warga Indonesia yang mengidentifikasi dirinya sebagai Nahdliyin. Hatim melihat dengan skala organisasi sebesar itu, Muktamar bukan semata-mata sebagai ajang memilih figur, melainkan momentum menentukan arah kepemimpinan NU menghadapi tantangan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi yang semakin kompleks.
Hatim mengatakan ada sembilan kriteria yang penting dimiliki Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mendatang. Kriteria tersebut meliputi kemampuan menjadi pemersatu di tengah dinamika internal organisasi, memiliki akar yang kuat di dunia pesantren, serta memiliki pengalaman panjang berkhidmat dari tingkat ranting hingga kepengurusan pusat.
Kriteria berikutnya, kepemimpinan NU ke depan harus berpihak kepada kelompok masyarakat yang lemah, mampu menjaga tradisi pesantren sembari mendorong modernisasi organisasi, serta memiliki kapasitas keulamaan, kemampuan organisasi, integritas, dan rekam jejak kerja yang teruji.

Ilustrasi Nahdlatul Ulama. Dok.MI
Menurut Hatim, pemimpin NU harus memiliki kriteria tersebut agar NU tetap mampu menjaga muruah pesantren, memperkuat pelayanan kepada warga, serta meningkatkan kontribusi dalam menjawab persoalan bangsa dan tantangan global.
Hatim juga berharap Muktamar PBNU tidak hanya menghasilkan figur yang memperoleh dukungan politik terbesar, tetapi juga pemimpin yang memiliki kapasitas menyatukan organisasi, menjaga independensi NU, memperkuat khidmah kepada umat, dan membawa organisasi memasuki abad keduanya dengan visi lebih kuat.
Hatim menyebut penilaian terhadap kandidat tidak semata didasarkan pada popularitas atau dukungan politik. Melainkan, pada rekam jejak pengabdian, kapasitas kepemimpinan, integritas, serta kemampuan menjaga marwah dan kemandirian Nahdlatul Ulama.
Muktamar tinggal sebulan lagi. Hatim meminta warga Nahdliyin mengawal pimpinan cabang dan wilayah mereka masing-masing untuk memilih calon ketum yang memenuhi sembilan kritera di atas. Jika tidak, NU tetap akan berkubang dalam gejolak internal, intrik politik, dan tidak bisa memberikan solusi bagi kemaslahatan umat.