Warga Rorotan mulai memilah sampah dari rumah. Foto: Dok. DLH DKI Jakrta.
Gerakan Pilah Sampah, Rorotan Berhasil Pangkas Kiriman ke Bantargebang hingga 40 Persen
Dimas Chairullah • 9 May 2026 11:35
Jakarta: Ancaman krisis overkapasitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang perlahan menemukan solusinya dari hulu. Lewat aksi kolektif pemilahan sampah harian di Rorotan, volume limbah rumah tangga yang dikirim ke penampungan akhir berhasil ditekan drastis.
"Kalau penurunannya cukup lumayan ya, hampir 30 sampai 40 persen. Rata-rata sehari itu hampir 5.000 kilogram sampah organik, anorganik terpilah, dan residu yang masuk ke sini (TPS 3R)," kata Petugas TPS 3R RW 07 Rorotan, Eko Hari Purnomo kepada Metrotvnews.com, Sabtu, 9 Mei 2026.
Langkah nyata penanganan dari sumbernya ini memperkuat fondasi Gerakan Deklarasi Pilah Sampah dan Pencanangan HUT DKI Jakarta untuk Minggu, 10 Mei 2026.
Data di lapangan menunjukkan dampak yang sangat signifikan. Khusus wilayah RW 07, pengangkutan sampah organik yang sudah terpilah bisa mencapai 4 hingga 5 kuintal per hari.

Iustrasi pemilahan sampah. Foto: Antara.
Sampah organik ini kemudian ditahan di tingkat kelurahan. Sampah tersebut tidak dibiarkan menumpuk di fasilitas pembuangan akhir.
Ketua RW 07 Rorotan, Idil Adha, menambahkan bahwa dalam setiap pengangkutan harian, satu RW bisa mencegah pembuangan hingga 1 ton limbah. Jika dikalkulasi dalam sebulan, ada puluhan ton sampah yang berhasil dicegah menumpuk di fasilitas akhir.
Limbah yang masuk dipilah secara ketat. Sampah yang benar-benar residu dan tak lagi memiliki nilai guna akan langsung dialihkan ke fasilitas pemusnahan Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan yang hanya berjarak lima menit dari pemukiman warga. Hal itu guna memotong rantai distribusi panjang ke Bantargebang.