Ilustrasi, galon plastik. Foto: dok Medcom.id
Harga Plastik Naik, Industri Didorong Bangun Ketahanan di Tengah Tekanan Global
Husen Miftahudin • 11 April 2026 16:15
Jakarta: Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap rantai pasok global bahan baku. Kondisi ini memperlihatkan bahwa plastik tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga telah berkembang menjadi tantangan ekonomi dan operasional bagi berbagai sektor industri.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyampaikan kenaikan harga plastik dipicu oleh gangguan pada pasokan bahan baku, yang berdampak langsung pada ketersediaan dan distribusi di pasar. Kondisi ini mulai dirasakan oleh pelaku usaha karena kenaikan biaya bahan baku berpotensi menggerus margin dan meningkatkan tekanan biaya produksi.
Sementara peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai plastik merupakan komoditas antara yang menopang banyak sektor industri. Ketika pasokannya terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat produsen, tetapi juga berpotensi menjalar hingga ke konsumen melalui kenaikan harga produk dan tekanan terhadap daya beli.
Bagi konsumen, kondisi ini berpotensi berdampak langsung pada harga dan ketersediaan produk sehari-hari yang menggunakan kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi di tingkat industri pada umumnya akan diteruskan ke harga jual, sehingga mendorong masyarakat untuk mulai lebih selektif dalam memilih produk, termasuk mempertimbangkan alternatif konsumsi yang lebih efisien dan tidak bergantung pada plastik baru.
Sejumlah pelaku usaha, termasuk di sektor usaha kecil dan menengah, juga mulai merasakan tekanan tersebut, karena kenaikan harga bahan baku kemasan berpotensi mengurangi margin usaha jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual.
Situasi ini mendorong pelaku usaha untuk mulai melihat ketergantungan terhadap plastik baru sebagai faktor risiko yang perlu dikelola secara lebih strategis, tidak hanya dari sisi biaya, tetapi juga keberlanjutan pasokan.
Seiring dengan itu, pendekatan dalam penggunaan kemasan pun mulai bergeser. Model berbasis produksi baru (single-use) dinilai semakin rentan terhadap dinamika global, sehingga mendorong kebutuhan akan sistem yang lebih efisien dan adaptif, seperti penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Perubahan pendekatan ini mulai terlihat di berbagai sektor, termasuk industri air minum.
| Baca juga: Kiat Kurangi Plastik Sekali Pakai, Mulai dari Kebiasaan Sehari-hari |

(Depo air minum isi ulang Biru. Foto: Airminumbiru.com)
Tekan ketergantungan plastik baru
Air Minum Biru, penyedia layanan air minum isi ulang, merupakan salah satu pelaku usaha yang telah lebih dahulu mengembangkan sistem distribusi berbasis isi ulang dengan galon milik pelanggan, sebagai bagian dari model operasionalnya, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada produksi plastik baru.
"Dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan sistem menjadi semakin penting. Kami sejak awal membangun model bisnis yang meminimalkan ketergantungan pada plastik baru, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok," kata Direktur PT Biru Semesta Abadi (Air Minum Biru) Yantje Wongso, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 11 April 2026.
Menurut dia, pendekatan tersebut tidak hanya memberikan dampak dari sisi lingkungan, tetapi juga menciptakan sistem yang lebih stabil dalam menghadapi fluktuasi ketersediaan bahan baku plastik.
"Ketika pasokan dan harga menjadi tidak pasti, sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya akan menjadi keunggulan. Reuse dan refill bukan hanya alternatif, tapi bagian dari solusi jangka panjang," tambah dia.
Selain itu, dalam menghadapi tekanan terhadap ketersediaan plastik, pendekatan yang lebih sirkular juga semakin relevan. Air Minum Biru menyatakan pengembangan sistem yang mengoptimalkan penggunaan ulang (reuse) komponen kemasan menjadi bagian dari arah inovasi ke depan, dengan tetap mengedepankan standar kebersihan dan keamanan.
Dengan tekanan global yang masih berlangsung, pelaku industri diperkirakan akan semakin terdorong untuk membangun sistem yang lebih resilien, tidak hanya untuk menjaga efisiensi biaya, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan operasional di tengah ketidakpastian.
"Pendekatan seperti reuse dan refill menjadi semakin relevan sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik baru sekaligus menciptakan sistem yang lebih adaptif terhadap dinamika rantai pasok global," tutur Yantje.