Rupiah Naik 120 Poin Jadi Rp16.985/USD

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Naik 120 Poin Jadi Rp16.985/USD

Eko Nordiansyah • 8 April 2026 09:25

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Rupiah keluar dari level Rp17 ribu per USD saat dolar AS tertekan

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 8 April 2026, rupiah berada di level Rp16.985 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 120 poin atau setara 0,70 persen dari Rp17.105 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.087 per USD. Rupiah terpantau melemah dibandingkan pembukaan kemarin yang sebesar Rp17.032 per USD.



(Ilustrasi. MI/Usman Iskandar)

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu bergerak fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah akan bergerak di rentang Rp17.100 per USD hingga Rp17.150 per USD.

Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah (Timteng) menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak," papar dia.

Upaya diplomatik untuk meredakan konflik tampaknya goyah. Iran menolak proposal yang didukung AS yang menguraikan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap, bersamaan dengan negosiasi yang lebih luas tentang pencabutan sanksi dan rekonstruksi.

Di sisi lain, Ibrahim menilai desain subsidi berbasis komoditas membuka celah konsumsi oleh kelompok mampu. Skema subsidi energi yang belum tepat sasaran menjadi sorotan di tengah lonjakan harga minyak global. Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi masih dapat diakses tanpa pembatasan yang jelas.

"Kondisi ini membuat distribusi subsidi tidak sepenuhnya dinikmati kelompok yang berhak dan berisiko menimbulkan ketimpangan di lapangan. Kelompok seperti nelayan yang berhak justru berpotensi kekurangan pasokan," terang dia.

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi kondisi fiskal Indonesia di tengah ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga yang jauh di atas asumsi APBN memperbesar beban subsidi energi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)