Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. ANTARA/Karel A Polakitan
Aktivitas Gunung Karangetang Didominasi Gempa Embusan
Silvana Febiari • 6 October 2026 23:04
Manado: Aktivitas Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, didominasi gempa embusan. Kondisi tersebut tercatat selama periode pengamatan Senin, 5 Oktober 2026.
"Gempa embusan terekam sebanyak 54 kali, amplitudo 7-50 milimeter, durasi 12-92 detik," sebut petugas Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, Vieko Christianse Rompas, dalam laporan yang dibagikan dalam grup percakapan "Info Gunung Api Sitaro" di Manado, dilansir Antara, Selasa, 6 Oktober 2026.
Pada periode pengamatan tersebut juga terekam dua kali gempa guguran, 33 kali gempa tremor non-harmonik, dan 21 kali gempa tremor harmonik. Selain itu, terekam dua kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa tektonik lokal, dan empat kali gempa tektonik jauh.
Asap kawah utara teramati berwarna putih tebal dengan ketinggian sekitar 5-20 meter. Guguran lava pijar juga terjadi dari puncak kawah utara dan mengalir ke arah selatan sejauh sekitar 700 meter.
Guguran lava pijar juga meluncur ke arah barat daya dan barat menuju Kali Pangi, Kali Kinali, Kali Sumpihi, Kali Hung, dan Kali Kiawang sejauh sekitar 100–1.000 meter. Sementara guguran lava mengarah ke barat laut menuju Kali Batuare, Kali Batu Kole, dan Kali Malebuhe sejauh sekitar 100–700 meter.
Pada malam hari tampak pada CCTV dari kawah selatan teramati sinar api lebih kurang lima meter.

Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara . ANTARA/HO-Pos PGA Karangetang
Pada tingkat aktivitas Level II (Waspada), masyarakat serta pengunjung/wisatawan diimbau tidak mendekati, mendaki, atau beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya. Zona tersebut meliputi radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (Kawah Selatan), serta area perluasan sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer.
Warga diimbau mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat tumpukan material lava sebelumnya yang masih belum stabil. Terutama berpotensi mengarah ke sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.