Sawah padi di Sumba memakai varietas Sridewi. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah.
Petani di Sumba Barat Beralih ke Benih Sridewi, Hasil Panen Melonjak Drastis
Zein Zahiratul Fauziyyah • 1 November 2026 13:06
Sumba Barat: Penggunaan benih padi unggul Sridewi mulai memberikan hasil yang dirasakan sejumlah petani di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan kebutuhan benih yang lebih sedikit, varietas ini dinilai mampu menghasilkan panen lebih banyak dibandingkan benih yang sebelumnya digunakan petani.
Salah seorang petani di Sumba Barat, Ester mengungkapkan, hasil panennya meningkat setelah beralih dari benih IR ke Sridewi. Di lahan seluas 30 are, ia sebelumnya hanya memperoleh sekitar 14 karung gabah. Namun, setelah mencoba Sridewi, hasil panennya mencapai sekitar 30 karung.
"Waktu masih menggunakan benih lain, hasil panen kami sekitar 14 karung. Setelah menggunakan Sridewi, hasilnya bisa mencapai 30 karung," ujar Ester saat berbincang di Sumba Barat, Jumat, 30 Oktober 2026.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran potensi benih Sridewi dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Selain hasil panen, kebutuhan benih yang lebih sedikit juga menjadi salah satu keunggulannya. Petani dapat menyesuaikan jumlah benih dengan luas lahan dan teknik penanaman yang diterapkan.
Baca Juga :
Dalam pelaksanaannya, WVI bekerja sama dengan PT BISI Internasional untuk penyediaan benih dan pendampingan teknis pertanian. Sementara itu, lembaga keuangan seperti Credit Union (CU) Sangosai turut mendukung petani dalam mengakses kebutuhan sarana produksi.

Ester, petani di Sumba Barat yang beralih menggunakan bibit Sridewi. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Perawatan Teratur untuk Mendukung Produktivitas
Di balik peningkatan hasil panen, penggunaan Sridewi juga diikuti pola perawatan yang lebih teratur. Petani perlu memperhatikan tahapan pertumbuhan tanaman, termasuk jadwal pemberian obat-obatan sesuai kebutuhan dan panduan budidaya.Ester menjelaskan, kebiasaan merawat tanaman sebelumnya berbeda ketika masih menggunakan benih yang lain. Obat-obatan biasanya baru dibeli ketika tanaman menunjukkan gejala penyakit.
“Kalau benih yang dulu, kalau padinya sakit baru kita cari obat di toko. Misalnya daunnya memutih, baru pergi cari obat,” ujarnya.
Sementara itu, perawatan Sridewi dilakukan lebih teratur mengikuti tahapan pertumbuhan tanaman. Untuk penyemprotan pertama, petani memperkirakan perlu menyiapkan biaya sekitar Rp900 ribu hingga Rp1 juta.
“Untuk penyemprotan pertama saja dalam satu hektare (atau 30 are) harus siapin kisaran Rp900 ribu sampai Rp1 juta," katanya.
Harga benih Sridewi yang disebut petani sekitar Rp130 ribu per kilogram juga menjadi salah satu komponen biaya produksi. Meski demikian, kebutuhan benih setiap petani berbeda, bergantung pada luas lahan dan jumlah benih yang digunakan.
Seorang petani lainnya mengaku menggunakan sekitar lima kilogram benih untuk satu musim tanam. Sementara itu, petani lain menyebut kebutuhan benihnya mencapai delapan kilogram.
Perawatan yang lebih teratur tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari upaya menjaga pertumbuhan tanaman dan mendukung potensi hasil panen. Karena itu, petani perlu memperhitungkan kebutuhan benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, serta biaya pengolahan lahan sejak awal musim tanam.

Sawah padi di Sumba memakai varietas Sridewi. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah.
Kolaborasi untuk Membantu Petani Mengakses Sarana Produksi
Untuk mendukung penerapan teknik budidaya tersebut, Program INCLUSION juga melibatkan lembaga keuangan dalam memperluas akses permodalan petani. Salah satunya melalui (Credit Union) CU Sangosay yang mengembangkan skema pembiayaan dalam bentuk sarana produksi pertanian.Melalui skema ini, petani tidak menerima pinjaman dalam bentuk uang tunai. Kebutuhan pertanian, seperti benih, pupuk, dan obat-obatan, disiapkan sesuai rencana budidaya. Pembayaran pinjaman kemudian dilakukan setelah masa panen.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu petani memenuhi kebutuhan produksi tanpa harus menanggung seluruh biaya di awal musim tanam.