Indonesia Jadi Pasar Internasional Terbesar Kolaborasi Universitas Inggris-Tiongkok

Executive President XJTLU Professor Youmin Xi. Foto: dok XJTLU.

Indonesia Jadi Pasar Internasional Terbesar Kolaborasi Universitas Inggris-Tiongkok

Ade Hapsari Lestarini • 25 June 2026 21:46

Jakarta: Xi’an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), universitas hasil kolaborasi antara Xi’an Jiaotong University di Tiongkok dan University of Liverpool di Inggris, terus memperkuat posisinya di Indonesia sebagai salah satu institusi pendidikan internasional.

Indonesia saat ini menjadi pasar internasional terbesar bagi XJTLU. Sekitar 700 mahasiswa Indonesia sedang menempuh pendidikan di kampus tersebut. Untuk penerimaan mahasiswa pada September 2026, jumlah aplikasi sarjana dari Indonesia telah mencapai lebih dari 1.500 orang atau sekitar 38 persen dari total aplikasi internasional.

Executive President XJTLU Professor Youmin Xi mengatakan keberagaman menjadi salah satu kekuatan utama universitas tersebut.

"Saat ini XJTLU memiliki tenaga pengajar yang berasal dari lebih dari 60 negara dan wilayah. Sementara mahasiswa kami berasal dari hampir 100 negara dan wilayah yang berbeda, sehingga mereka terbiasa berada dalam lingkungan multikultural," ujar Professor Xi dalam Media Session XJTLU, dalam keterangan tertulis, Kamis, 25 Juni 2026.

Menurut dia, model pendidikan XJTLU dirancang untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan global.

"Model edukasi kami adalah membantu mahasiswa tumbuh dengan kemampuan berpikir yang cepat dan penuh kebijaksanaan. Mereka dapat mengembangkan berbagai kemampuan, termasuk berkolaborasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dengan mengintegrasikan perspektif Barat dan Timur," kata dia.
 

Tawarkan double degree


Saat ini XJTLU menawarkan lebih dari 100 program studi di bidang sains, teknik, bisnis, keuangan, arsitektur, perencanaan kota, bahasa, dan budaya. Seluruh program diajarkan dalam bahasa Inggris, kecuali mata kuliah umum dan dasar. Mahasiswa program sarjana memperoleh dua gelar, yakni gelar dari XJTLU yang diakui Kementerian Pendidikan Tiongkok dan gelar dari University of Liverpool yang diakui secara global.

Sementara itu, mahasiswa pascasarjana memperoleh gelar dari University of Liverpool. XJTLU juga menawarkan program doktoral (PhD) di seluruh departemen akademiknya sebagai bagian dari pengembangan universitas berbasis riset.
 


Executive President XJTLU Professor Youmin Xi. Foto: dok XJTLU.


Salah satu alumni Indonesia, Tuty Julfa, mengatakan pengalaman belajar di XJTLU tidak hanya memperkuat kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan nonteknis yang mendukung pengembangan karier.

"Saya merasa sangat beruntung dapat berkuliah di XJTLU karena tidak hanya mendapatkan hard skill, tetapi juga soft skill yang mendukung pengembangan karier. Kami belajar membangun kegigihan, ketekunan, dan kemampuan interpersonal yang sangat berperan dalam membentuk diri saya saat ini," ujar Tuty yang kini berbisnis di sektor fesyen ritel.

Sebagai bagian dari strategi internasionalisasi, XJTLU membuka kantor perwakilan resmi di Indonesia pada 2024. Kehadiran tersebut bertujuan memperkuat hubungan dengan calon mahasiswa, institusi pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan.

Pada Juni 2026, XJTLU juga menambah staf rekrutmen di Indonesia guna memperluas jangkauan layanan bagi calon mahasiswa. Universitas tersebut telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Binus University, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Petra Christian University. Selain itu, kerja sama juga dilakukan dengan berbagai sekolah nasional, sekolah internasional, serta agen pendidikan.
   

Integrasikan AI dalam pembelajaran


Dia mengatakan, 2026 menandai usia ke-20 XJTLU. Dalam pengembangan kurikulumnya, universitas tersebut semakin menekankan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai pendukung proses pembelajaran. Professor Xi mengatakan, mahasiswa telah diperkenalkan pada AI sejak tahun pertama perkuliahan, termasuk pemahaman mengenai penggunaan dan etika AI.

Pada tahun berikutnya, mahasiswa mulai memanfaatkan AI dalam berbagai bidang studi, seperti matematika, teknik, maupun ilmu sosial. Sementara pada tahun ketiga, AI digunakan untuk mendukung proses penelitian dan memperdalam pemahaman akademik.

"Kami menggunakan AI untuk mendukung pendidikan, melakukan peningkatan, restrukturisasi, dan transformasi pembelajaran. Namun, kami tidak ingin AI menggantikan pendidikan. Filosofi kami adalah X plus AI, bukan AI plus X," ujar Professor Xi.

(Ade Hapsari Lestarini)