Maito de carachama, makanan khas dari Ekuador. (en.cocina-ecuatoriana.com)
7 Negara yang Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu, Siapa Saja?
Riza Aslam Khaeron • 26 April 2026 17:27
Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak dua pekan lalu telah meluncurkan kebijakan untuk menekan populasi ikan sapu-sapu. Ikan yang secara internasional dikenal dengan sebutan pleco ini sering kali digolongkan sebagai spesies invasif.
Kemampuan reproduksi ikan sapu-sapu yang sangat efektif serta ketangguhannya untuk bertahan hidup dalam kondisi krisis sering kali mengancam populasi ikan lokal.
“Ada timbalnya, ada macam-macamnya, dan itu benar-benar berbahaya bagi manusia kalau dikonsumsi,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 15 April 2026.
Di luar Indonesia, ikan ini justru kerap digemari di berbagai negara. Berikut adalah daftar 7 negara yang menyantap ikan sapu-sapu:
1. Peru
Di kawasan Amazon Peru, ikan ini dikenal sebagai carachama — sejenis dari keluarga Loricariidae yang hidup di sungai dan rawa Amazon. Ikan ini banyak ditemukan di wilayah Selva Peru, terutama di Loreto, Ucayali, dan San Martín.Di Loreto, carachama digunakan sebagai bahan sup ikan seperti chilcano de pescado. Di wilayah Selva, hidangan serupa dikenal sebagai timbuche — sup ikan air tawar Amazon dengan tambahan rempah lokal seperti sacha culantro.
Carachama sebagai ikan air tawar asli cekungan Amazon dapat ditemukan dari Brasil hingga Peru. Artinya, di Peru ikan ini bukan sekadar spesies yang "bisa dimakan", tetapi sudah masuk dalam tradisi kuliner masyarakat Amazon.
2. Brasil
Di Brasil, ikan sapu-sapu dikenal dengan nama lokal seperti bodó, acari-bodó, atau cascudo, tergantung pada wilayah dan spesiesnya. Spesies Liposarcus pardalis (bodó) menjadi salah satu yang paling banyak diperdagangkan di pasar ikan setempat.Di kawasan Amazon Brasil, bodó merupakan bagian dari sumber pangan lokal, bukan sekadar ikan hias atau ikan invasif.
3. Ekuador

Sup Carachama. (marvelousperu.com)
Di Amazon Ekuador, ikan sapu-sapu kerap disebut carachama dan diolah menjadi maito de carachama — ikan yang dibungkus daun lalu dipanggang. Kementerian Pariwisata Ekuador bahkan menyebut hidangan ini sebagai bagian dari gastronomi Archidona, Napo, dan kerap disajikan kepada wisatawan.
Kementerian Kesehatan Ekuador memasukkan maito de carachama sebagai salah satu resep makanan emblematis masyarakat Kichwa Amazon, menandakan bahwa konsumsi ikan ini bukan sekadar eksperimen kuliner, melainkan bagian dari praktik pangan tradisional masyarakat setempat.
4. Kolombia
Di Kolombia, ikan dari keluarga Loricariidae dikenal sebagai cucha. Spesies Chaetostoma vagum (cucha trompiblandita) dari cekungan sungai Orteguaza, Caquetá, dan Amazonas, memiliki nilai komersial tinggi karena tingginya permintaan konsumsi dari masyarakat Caquetá.Cucha memiliki daging berwarna putih dengan cita rasa yang disukai masyarakat lokal.
| Baca Juga: Kandungan Logam di Ikan Sapu-Sapu, Amankah Dikonsumsi? |
5. Meksiko
Berbeda dari negara-negara Amerika Selatan yang mengonsumsi ikan ini sebagai pangan tradisional, di Meksiko konsumsi ikan sapu-sapu — yang dikenal sebagai pez diablo — berkembang sebagai bentuk pemanfaatan spesies invasif.Daging pez diablo tergolong ikan putih, rendah lemak, dan tinggi protein. Berbeda dengan di Indonesia, kadar logam berat dan senyawa organoklorin pada ikan tersebut di Meksiko dilaporkan berada di bawah ambang batas norma kesehatan setempat.
6. Venezuela
Di Venezuela, ikan dari keluarga sapu-sapu kerap dikenal sebagai corroncho. Spesies Chaetostoma pearsei (corroncho del lago de Valencia) merupakan ikan Loricariidae yang digunakan secara lokal untuk konsumsi manusia, terutama dalam hidangan sancocho.Selain itu, laporan FAO tentang konsumsi ikan di cekungan Amazon Venezuela turut mencantumkan beberapa spesies Loricariidae — seperti Ancistrus, Exastilithoxus, Lasiancistrus, Pseudoancistrus, dan Rineloricaria — dalam daftar ikan yang dikonsumsi oleh komunitas setempat, khususnya di komunitas sungai Amazon-Orinoco.
7. Indonesia
Ikan sapu-sapu kerap digunakan sebagai bahan pangan olahan di Indonesia, meski praktik ini bersifat kontroversial. Ikan sapu-sapu, terutama spesies Pterygoplichthys pardalis dari Sungai Ciliwung, kerap digunakan sebagai bahan pembuatan abon, siomai, dan makanan olahan lainnya.Namun, berbagai penelitian telah mengungkapkan bahwa kandungan beberapa logam seperti Arsen, Kadmium, dan Timbal dalam ikan sapu-sapu dari sungai tersebut telah melewati batas norma yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga dapat menimbulkan risiko penyakit kronis dan sangat tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com