Ilustrasi. Foto: dok Xinhua.
Wall Street Bervariasi: Dow Jones Tergelincir, Nasdaq Raup Cuan Tipis
Husen Miftahudin • 11 March 2026 08:33
New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup relatif datar dalam perdagangan yang bergejolak pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Investor mencerna serangan AS-Israel terhadap Iran dan menghadapi volatilitas di pasar energi.
Mengutip Xinhua, Rabu, 11 Maret 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,07 persen menjadi 47.706,51. Indeks S&P 500 merosot 0,21 persen menjadi 6.781,48. Indeks Nasdaq Composite naik 0,01 persen menjadi 22.697,10.
Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir merah, dengan sektor energi dan kesehatan memimpin penurunan dengan masing-masing turun 1,32 persen dan 0,73 persen. Sektor jasa komunikasi dan teknologi memimpin kenaikan dengan masing-masing bertambah 0,26 persen dan 0,08 persen.
Adapun, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan AS, mengalami fluktuasi tajam intraday sebelum akhirnya stabil dengan penurunan lebih dari 11 persen menjadi USD83,45 per barel.
Sebelumnya, WTI anjlok di bawah USD77 setelah unggahan Menteri Energi AS Chris Wright yang mengklaim Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
Unggahan tersebut segera dihapus, dan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengklarifikasi tidak ada pengawalan angkatan laut seperti itu yang terjadi.
| Baca juga: Wall Street Raup Cuan saat Trump Bilang akan Akhiri Perang AS-Iran |

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Pasar masih ketar-ketir kenaikan harga minyak
Para pelaku pasar menyatakan kekhawatiran yang semakin meningkat atas potensi konsekuensi dari harga minyak yang tinggi. John Belton, seorang manajer portofolio di Gabelli Growth Fund, menyoroti risiko kenaikan harga minyak yang berkelanjutan yang dapat berdampak pada ekspektasi inflasi yang lebih luas.
"Yang benar-benar saya fokuskan dalam jangka panjang adalah, sejauh mana harga minyak tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, apakah itu mulai memengaruhi ekspektasi inflasi, dan apakah itu menggagalkan narasi disinflasi yang telah berlangsung selama 12 hingga 18 bulan terakhir," kata Belton.
Sementara itu, sebagian besar dari tujuh saham mega-kapitalisasi "Magnificent Seven" mencatatkan kenaikan, Microsoft menjadi satu-satunya pengecualian. Produsen chip memori juga melanjutkan tren kenaikan dari sesi sebelumnya, dengan SanDisk dan Western Digital (WD) masing-masing naik 5,12 persen dan 1,59 persen.
Saham perusahaan ritel Kohl's ditutup 1,49 persen lebih rendah, dan Hewlett Packard Enterprise turun 3,26 persen. Oracle juga ditutup 1,43 persen lebih rendah karena investor menunggu rilis pendapatan perusahaan perangkat lunak tersebut yang dijadwalkan setelah penutupan pasar.
Ke depan, Wall Street bersiap menghadapi dua laporan inflasi domestik yang sangat penting. Indeks harga konsumen Februari dijadwalkan akan dirilis pada Rabu, diikuti oleh indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi Januari pada Jumat. Analis pasar mencatat meskipun laporan-laporan ini sangat dinantikan, keduanya tidak akan mencerminkan lonjakan harga minyak akibat geopolitik baru-baru ini.