Literasi Kebencanaan Harus Menjadi Bagian Sistem Pendidikan Nasional

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Dok Metrotvnews.com

Literasi Kebencanaan Harus Menjadi Bagian Sistem Pendidikan Nasional

Arga Sumantri • 1 September 2026 16:55

Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) mengungkapkan literasi kebencanaan sebagai bagian integral dalam sistem pendidikan nasional harus segera diwujudkan. 

"Peningkatan literasi kebencanaan jangan sekadar kegiatan insidental semata, harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan yang kita miliki," kata Rerie dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 1 September 2026.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) melakukan pertemuan dalam rangka mendorong penguatan literasi kebencanaan melalui pemanfaatan narasi sejarah, manuskrip, serta pengembangan kapasitas penyelamatan koleksi pustaka yang terdampak bencana, pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Rerie berpendapat langkah tersebut penting untuk membangun kesadaran dan memori kolektif masyarakat, sekaligus meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat. Namun, Rerie berharap pendidikan kebencanaan di sekolah jangan hanya bersifat pengetahuan tambahan semata. 

"Urgensi pendidikan kebencanaan dalam sistem pendidikan kita tidak bisa ditawar lagi, mengingat Indonesia adalah kawasan rawan bencana dan anak-anak berada di garis terdepan yang menghadapi risiko tersebut," ujar Anggota Komisi X DPR itu.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, lebih dari 70 ribu satuan pendidikan berada di zona risiko bahaya sedang hingga tinggi.

Pada 2021-2023, bencana bahkan meningkat signifikan dari 4.042 kejadian menjadi 5.400 kejadian, dan pada 2026, bencana gempa di NTT berdampak pada 253 sekolah.

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Dok Metrotvnews.com

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berpendapat bahwa kesiapan sumberdaya manusia, penguatan kurikulum adaptif, dan peningkatan literasi kebencanaan bagi pengajar harus segera direalisasikan. 

"Langkah ini bukan hanya tentang bagaimana belajar saat bencana, tapi bagaimana kita memastikan masa depan anak bangsa tidak terhenti oleh bencana," ujar Rerie. 

Ia menilai peningkatan literasi kebencanaan yang berkelanjutan dalam suatu sistem jangka panjang harus segera dilakukan. 

"Jika tidak segera diwujudkan, generasi muda akan terus menjadi kelompok paling rentan setiap kali bencana melanda, dan kekayaan pengetahuan lokal bernilai tinggi berpotensi punah karena tak terwariskan hancur karena bencana," ujar Rerie.

(Arga Sumantri)