Dr. Soetomo. (ANRI via Wikimedia Commons)
Kisah Hidup dan Perjuangan Dr. Soetomo, Tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia
Riza Aslam Khaeron • 20 May 2026 16:59
Jakarta: Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) setiap tanggal 20 Mei. Harkitnas menandai momen berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Peristiwa tersebut mengenang peran Boedi Oetomo dalam menjaga nyala semangat pendidikan, kemajuan, serta kesadaran kolektif bangsa untuk keluar dari belenggu penjajahan.
Salah satu tokoh sentral di balik peristiwa bersejarah tersebut adalah Dr. Soetomo, sang pendiri sekaligus ketua pertama Boedi Oetomo. Berikut adalah ulasan mengenai profil perjuangan beliau.
Masa Kecil Soetomo
Mengutip Dr. Djoko Marihandono dalam buku Dokter Soetomo tahun 2013, Soetomo lahir dengan nama asli Soebroto pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan putra sulung dari pasangan Raden Soewadji dan Raden Ayoe Soedarmi. Soetomo tumbuh besar di bawah asuhan kakeknya di lingkungan pedesaan Ngempal yang kental dengan nilai-nilai luhur tradisional.Menginjak usia 7 tahun, Soebroto kecil harus berpisah dengan kakek dan neneknya untuk tinggal bersama orang tuanya di Bojonegoro. Setahun kemudian, ia harus kembali merantau untuk masuk sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) di kota Bangil.
Sekolah ELS merupakan sekolah dasar rendah yang dikhususkan bagi anak-anak bangsa Eropa, Timur Asing (Tionghoa dan Arab), serta putra-putra pejabat bumiputra yang terpilih. Demi memenuhi syarat administrasi sekolah Belanda tersebut, sang paman yang bernama Raden Arjodipoero berinisiatif mengubah nama Soebroto menjadi Soetomo dan mengakuinya sebagai anak kandung sendiri.
Di lingkungan sekolah ELS inilah watak pemberani Soetomo mulai terasah. Ia dikenal tidak segan-segan berkelahi dengan murid-murid keturunan Eropa demi membela martabat teman-temannya sesama pribumi yang kerap menjadi sasaran ejekan.
Titik Balik di STOVIA
Setelah menyelesaikan studinya di ELS, Soetomo dihadapkan pada dua pilihan masa depan yang berbeda: masuk ke sekolah calon pegawai negeri Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) sesuai harapan sang kakek atau sekolah kedokteran School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) sesuai dorongan ayahnya.Saat itu, OSVIA merupakan sekolah yang sangat populer di kalangan masyarakat karena lulusannya dijamin langsung bekerja di birokrasi pemerintahan kolonial sebagai pegawai Pangreh Praja. Namun, sang ayah, Raden Soewadji, menginginkan Soetomo menjadi seorang dokter agar memiliki kedudukan sosial yang setara dengan orang Belanda dan terhindar dari perlakuan semena-mena sebagai bawahan birokrasi kolonial.
Soetomo akhirnya memutuskan masuk STOVIA pada tahun 1903. Kepergian ayahnya yang wafat pada tahun 1907 menjadi titik balik penting yang memaksa Soetomo untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab sebagai anak tertua di keluarganya.
Boedi Oetomo dan Fajar Kebangkitan Nasional
Dalam berbagai buku teks sejarah, Boedi Oetomo sering kali ditulis didirikan oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo. Namun, fakta sejarah ini kerap diluruskan oleh para cendekiawan. Sebelum organisasi tersebut resmi berdiri, kondisi sosial masyarakat bumiputra kala itu sangat memprihatinkan.Banyak pemuda-pemudi cerdas yang tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya. Tergerak oleh rasa solidaritas sosial yang tinggi terhadap bangsanya, dr. Wahidin Soedirohoesodo berkeinginan mendirikan sebuah lembaga dana bantuan belajar yang disebut studie fonds.
Lembaga ini bertujuan mengumpulkan donasi kemanusiaan untuk membiayai sekolah para pemuda pribumi yang berprestasi.
Terinspirasi oleh gagasan luhur dr. Wahidin tersebut, Soetomo mengambil langkah konkret yang jauh lebih progresif. Tepat pada hari Minggu, 20 Mei 1908, bertempat di ruang kelas satu (zaal van het eerste jaar der geneeskundige afdeeling) STOVIA, Soetomo memimpin sebuah pertemuan penting yang melahirkan Boedi Oetomo—organisasi modern pertama di Indonesia—dengan dirinya terpilih sebagai ketua pertama.
Pengabdian Medis dan Studi di Eropa
Setelah berhasil lulus dari STOVIA pada tahun 1911, Soetomo mendedikasikan dirinya sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah yang sedang dilanda wabah penyakit, mulai dari Semarang, Tuban, hingga Lubuk Pakam di Sumatera Utara.Saat bertugas di Blora pada tahun 1917, ia bertemu dan menikahi Everdina Broering (Suster de Graff), seorang perawat berkebangsaan Belanda. Sang istri menjadi sosok yang sangat mendukung perjuangannya, meskipun pernikahan beda ras tersebut sempat memicu kecaman keras dari kalangan masyarakat Eropa kala itu.
Pada periode tahun 1919 hingga 1923, Soetomo bertolak ke Eropa untuk melanjutkan studi spesialis penyakit kulit dan kelamin di Amsterdam dan Hamburg. Selama bermukim di Belanda, ia terpilih menjadi ketua Indische Vereeniging dan mengusulkan perubahan nama organisasi tersebut menjadi Perhimpoenan Indonesia pada tahun 1922 untuk mempertegas identitas nasionalisme di tanah jajahan.
Sekembalinya ke Surabaya pada tahun 1923, Soetomo bekerja di Rumah Sakit Simpang dan mengajar di Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS). Beliau mendirikan Indonesische Studieclub pada 11 Juli 1924 sebagai wadah diskusi kebangsaan bagi kaum terpelajar.
Melalui wadah ini, ia fokus mengampanyekan konsep "autoactiviteit" (kemandirian bangsa) lewat tindakan nyata, seperti mendirikan asrama pelajar, rumah yatim piatu, dan balai latihan kerja bagi rakyat miskin.
Soetomo sempat terpilih menjadi anggota dewan kota (Gemeenteraad) Surabaya. Namun, secara dramatis ia memilih mengundurkan diri pada tahun 1925 karena menganggap dewan tersebut hanyalah alat politik kolonial yang tidak tulus dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil di perkampungan. Baginya, karya nyata di tengah masyarakat jauh lebih efektif daripada sekadar retorika politik.
| Baca Juga: Mengenal 6 Tokoh di Balik Hari Kebangkitan Nasional |
Parindra dan Indonesia Mulia

dr Soetomo bersama keluarga di Surabaya pada 1937. Foto KITLV
Pada tahun 1930, Indonesische Studieclub bertransformasi menjadi partai politik resmi bernama Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) yang membuka pintu bagi keterlibatan masyarakat luas. PBI sangat aktif bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat dengan mendirikan koperasi, Bank Nasional Indonesia, serta organisasi Rukun Tani guna melindungi para petani kecil dari jeratan lintah darat.
Puncak karier politik Soetomo tercapai saat ia berhasil melebur PBI dan Boedi Oetomo menjadi satu wadah perjuangan bernama Partai Indonesia Raya (Parindra) pada tahun 1935. Parindra mengusung visi besar mewujudkan "Indonesia Mulia".
Sejarawan Paul van der Veur dalam bukunya Kenang-kenangan Dokter Soetomo (1984) menyarikan konsep "Indonesia Mulia" gagasan dr. Soetomo ke dalam 8 (delapan) prinsip utama perjuangan:
- Persatuan Indonesia merupakan hal yang paling utama.
- Perbedaan antara taktik kooperasi dan non-kooperasi tidaklah penting
- Baik Ekstrimitas Komunis maupun Ketidaktoleransian golongan Islam harus ditentang.
- Semua manusia berusaha dan merupakan penjelmaan Tuhan yang terakhir
- Jalan menuju kemerdekaan panjang dan sukar
- Pendidikan Barat telah mengasingkan bangsa Indonesia dari kebudayaannya sendiri dan mencetak manusia-manusia yang asosial
- Pencetakan kader, disiplin atas diri sendiri, bakti tanpa pamrih, tugas dan kewajiban
- Kembali ke desa, dirikanlah Roekoen Tani.
Hingga akhir hayatnya, dr. Soetomo mewariskan pesan berharga bahwa perjuangan kemerdekaan bukan semata-mata tentang merebut kekuasaan politik, melainkan tentang mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan hidup seluruh rakyat Indonesia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com