20 Tahun Tanpa Kenaikan, Warga Respons Wacana Tarif Baru TransJakarta

Bus TransJakarta. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

20 Tahun Tanpa Kenaikan, Warga Respons Wacana Tarif Baru TransJakarta

Metro TV • 1 October 2026 12:20

Jakarta: Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyesuaikan kenaikan tarif TransJakarta (TJ) pada 1 Januari 2027 memantik berbagai respons warga. Tarif TJ sebesar Rp3.500 telah berlangsung sejak 2005 atau lebih dari 20 tahun lalu. 

Salah seorang warga asal Kelapa Gading, Jakarta Utara, Neneng, 50, keberatan jika tarif TJ harus dinaikkan. Menurut dia, situasi ekonomi mayoritas masyarakat belum baik. Sehingga, dia menilai kenaikan tarif transportasi umum makin memberatkan masyarakat, utamanya dengan taraf ekonomi bawah.

“(TransJakarta) kan angkutan massal. Sekarang kan kondisi ekonomi belum, tidak baik-baik saja, kebutuhan banyak. Pokoknya sekarang itu kalau bisa, kalau bisa malah ya jangan naik. Jangan ada tambah biaya lah. Kasihan rakyatnya,” kata Neneng, kepada Metrotvnews.com di Halte Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Oktober 2026.

Meski tidak sering menggunakan TJ, Neneng tetap dapat merasakan kecemasan sejumlah warga, terutama mereka yang setiap hari mengandalkan TJ sebagai alat mobilitas. 

“Saya jarang. Tapi kan terasa loh kalau orang naik itu. Kan buat bagi mereka yang tiap hari transportasi naik, transportasi umum itu sangat terasa,” ujar Neneng.

Neneng pada dasarnya memaklumi adanya kenaikan pada fasilitas publik seperti TJ, khususnya TJ yang mendapatkan subsidi dari Pemprov Jakarta. Namun, dia menyarankan pemangku kebijakan mengambil strategi selain kenaikan tarif.

“Memang banyak kan kita itu yang disubsidi gitu loh. Tapi kan tuh, kan bisa nanti, saya nggak ngerti ya kayak gitu, cuma kan bisa kita ngambil dari, dari pos yang mana supaya ini nggak naik,” jelas Neneng.

Dia menekankan pentingnya transportasi massal sebagai urat nadi perekonomian masyarakat Jakarta. Dia mengingatkan soal produktivitas masyarakat yang mungkin terdampak jika ada kenaikan tarif transportasi umum.

“Karena kan ini tuh, ini kan motor penggeraknya orang, ekonomi itu di sini letaknya. Kalau ini naik, terus orang enggak bisa ngapa-ngapain, makin gimana gitu,” kata Neneng.

Alih-alih kenaikan tarif transportasi umum, Neneng membandingkan kenaikan sektor lain misalnya listrik yang bisa ditekan lewat penghematan. Sementara itu, alat mobilitas seperti TJ selalu dibutuhkan masyarakat setiap harinya.

“Kalau yang lain naik kan masih bisa di, bisa diatasi lah. Katakanlah listrik nih misalnya, ini orang nggak suka naik, tapi kan, kan bisa diirit bisa di, tapi kalau transportasi orang pasti susah,” tutur Neneng.

Di sisi lain, pengguna TJ lainnya, Desi, 26, justru merasa kenaikan ini wajar. Meski di satu sisi, dia berharap tidak ada kenaikan.

Desi, warga pengguna TransJakarta. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina. 

Sebagai pegawai swasta, setidaknya dalam sehari dia menggunakan TJ untuk berangkat dan pulang kerja dengan total pengeluaran Rp7 ribu per hari atau Rp140 ribu per bulan. Menurutnya kenaikan dalam kisaran maksimal Rp5 ribu masih bisa dia terima.

“Sebenarnya berat, tapi ya gimana lagi ya. Kan ini juga kenaikan 20 tahun enggak ada kenaikan kan. Semoga enggak sampai di atas lima ribu (rupiah) aja sih,” kata Desi.

Desi mengungkapkan strateginya dalam menghadapi potensi pembengkakan biaya transportasi nantinya. Salah satunya lewat penghematan di pos pengeluaran lainnya.

“Paling harus hemat di yang lain aja sih,” ungkap Desi.

Menurut dia, kenaikan TJ tidak menjadi persoalan dengan fasilitas dan layanan yang dia dapat. Desi menuturkan sejauh ini selalu merasa nyaman selama menggunakan TJ.

“Pelayanan daripada para petugas tuh bagus-bagus sih. Kalau misal kita enggak tahu arah gitu mereka melayani dengan baik. Terus bisnya juga nyaman gitu,” kata Desi.

Selain itu, Desi mengapresiasi keberadaan transportasi umum yang memadai di Ibu Kota. Kendati demikian, dia menyarankan penambahan unit armada untuk bisa mengakomodasi lebih banyak orang yang ingin bepergian dengan nyaman dan terjangkau.

“Di Jakarta ini udah banyak banget fasilitas kendaraan umum yang bisa kita gunakan sebagai anak perantauan. Apalagi dibandingin sama desa aku. Jadi menurut aku udah bagus sih. Cuma mungkin ditingkatkan lagi lebih ke jumlah unitnya mungkin,” ujar Desi.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Siti Yona Hukmana)