Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia
Paradoks Diplomasi
Abdul Kohar, Media Indonesia • 22 June 2026 07:21
Politik sering menyimpan ironi yang sulit dijelaskan dengan logika sederhana. Apa yang kemarin dianggap kesalahan besar bisa tampil hari ini sebagai keberhasilan. Sebaliknya, apa yang dulu dipuji sebagai keberanian pada akhirnya berubah menjadi pengakuan atas kegagalan sendiri. Paradoks itulah yang kini mengemuka dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Selama bertahun-tahun Donald Trump menjadikan kesepakatan nuklir Iran yang dirancang pemerintahan Barack Obama, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebagai sasaran kritik. Ia berkali-kali menyebutnya sebagai 'kesepakatan terburuk dalam sejarah Amerika Serikat'.
Namun, perkembangan terbaru justru membuat banyak pengamat kembali menoleh kepada warisan diplomasi Obama. Sejumlah laporan media internasional menyebut kerangka kesepakatan baru yang disepakati Washington dan Teheran memiliki substansi yang tidak jauh berbeda dari JCPOA. Dalam beberapa aspek, bahkan dinilai memberikan konsesi lebih besar kepada Iran jika dibandingkan dengan kesepakatan yang dahulu dibatalkan Trump.
Di sinilah ironi itu muncul. Presiden yang keluar dari JCPOA karena menganggapnya terlalu lunak kini berhadapan dengan kemungkinan menyetujui formula yang serupa, tetapi dengan biaya politik lebih mahal dan ruang pengawasan yang lebih terbatas.
Obama pun angkat bicara. Menurutnya, sulit membayangkan kesepakatan baru akan menjadi perbaikan signifikan ketimbang JCPOA yang pernah berlaku sebelum Amerika menarik diri.
Pernyataan itu bukan sekadar kritik politik. Ia lebih menyerupai pengingat bahwa diplomasi membutuhkan kesabaran, sedangkan keputusan yang didorong kepentingan politik jangka pendek sering berakhir dengan kembali ke titik awal.
Ketika Trump menarik Amerika keluar dari JCPOA pada 2018, langkah itu dipresentasikan sebagai bentuk ketegasan terhadap Iran. Pemerintahannya menjanjikan kesepakatan yang lebih baik dan lebih menguntungkan bagi Washington. Delapan tahun kemudian, kenyataan tampaknya tidak sesederhana slogan kampanye.
Amerika kembali berada di meja perundingan. Iran tetap menjadi pemain penting kawasan. Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital energi dunia. Diplomasi yang dahulu dianggap kelemahan kembali menjadi pilihan yang sulit dihindari. Yang berubah justru posisi tawar.

Ancaman baru dari Donald Trump ke Iran ganggu negosiasi. Foto: The New York Times.
Jika sebelumnya Amerika datang dengan dukungan koalisi internasional dan mekanisme pengawasan yang kuat, kini situasinya lebih kompleks. Polarisasi politik meningkat, bahkan perpecahan muncul di kalangan pendukung Trump sendiri. Pada saat yang sama, Iran berusaha menampilkan diri sebagai pihak yang mampu bertahan menghadapi tekanan bertahun-tahun.
Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan lagi isi kesepakatan. Yang dipertaruhkan ialah kredibilitas keputusan politik Amerika sendiri. Bagaimana menjelaskan bahwa kesepakatan yang dulu dianggap buruk kini kembali menjadi rujukan? Bagaimana meyakinkan dunia bahwa keluar dari JCPOA ialah langkah tepat jika akhirnya harus menempuh jalur yang hampir sama?
Kasus itu mengingatkan bahwa kekuatan tidak hanya diukur dari kemampuan memulai konfrontasi, tetapi juga mengakhirinya secara terhormat. Jika kesepakatan baru tercapai, yang patut dirayakan bukan kemenangan salah satu pihak, melainkan berkurangnya risiko konflik yang lebih besar.
Namun, sejarah mungkin akan mencatat ironi yang sulit diabaikan. Ironi itu terjadi saat seorang presiden yang membatalkan sebuah kesepakatan karena dianggap terlalu lunak pada akhirnya harus kembali ke meja perundingan yang sama. Pada titik itu, perdebatan bukan lagi soal menang atau kalah, melainkan soal kredibilitas.
Ketika sebuah negara adidaya kembali ke posisi yang pernah ditinggalkan mereka, tetapi dengan ruang gerak yang lebih sempit dan daya tawar yang lebih lemah, yang sedang terjadi bukan sekadar penyelesaian masalah. Yang terjadi ialah penataan ulang di bawah tekanan.
Trump awalnya ingin tampak berbeda, tetapi hasil akhirnya justru membuatnya terlihat lebih buruk daripada yang dijanjikannya.